BAHAGIAKAH AKU….
(Yulita Nilawati)
Tersentak kubangun dan terkejut melihat jam menunjukkan angka 05.15 WIB. Ya ampun..!!!, mengapa alarmnya tidak berbunyi. Waaahhh…..lagi…lagi….telat nih!!!, akibat menemani Tommy bekerja sampai larut malam dan alarmnya ternyata lupa dihidupkan. Secepatnya kusiapkan air mandi untuk Angel dan makan pagi buat Tommy dan Angel, dua orang yang kucintai dan selalu mengisi hari-hariku. Teeet….teeetttt….!, bunyi klakson mobil antar jemput datang, secepatnya ku berlari keluar untuk mengabarkan bahwa Angel tidak ikut pagi itu.
Beruntung sekali aku walaupun Lisa tidak ada lagi, aku sekarang punya Dita yang bisa kuminta tolong untuk mengantar Angel ke sekolah. Jam menunjukkan angka 06.00 WIB, ketika Tommy berangkat ke kantor. Tak lama kemudian giliran Angel dan Dita pergi ke sekolah. Jam menunjukan angka 06.20 WIB, kubatalkan rencanaku untuk olahraga pagi, karena aku harus pergi ke pasar.
Sebelum berangkat ke pasar, aku harus menunggu Dita kembali dari mengantar Angel. Sudah jam 7.30, mengapa Dita belum juga muncul, bisa kesiangan aku. Kuhubungi telpon genggamnya, tidak ada jawaban. Aku mulai kuatir, kuhubungi sekolah Angel untuk mengetahui apakah ia sudah sampai disekolah. Angel sudah ada dikelasnya, begitu jawaban yang kuterima dari sekolah. Lalu kemana perginya Dita, apakah dia tersesat? sejenak terlintas hal itu dipikiranku. Berkali-kali kuhubungi telpon gengamnya, akhirnya Hp-ku berdering, terdengar suara Dita yang mengatakan bahwa ia sudah sampai, tadi ia sejenak mampir ke rumah Lisa.
Sesampai di rumah, Dita berulang kali meminta maaf karena sudah mencemaskanku. Hp-ku dipinjam Lisa untuk menelpon ke kampung, jelasnya sewaktu kutanya mengapa tidak menjawab panggilanku.
“Tante…, Lisa tadi bertengkar, Hp-nya hancur, dibanting oleh suaminya”, cerita Dita.
“Dia….mau pulang ke kampung tante! , suaminya marah dan pergi meninggalkannya”, jelas Dita kembali. “Memangnya ada apa?” tanyaku.
“Dia tidak cerita, hanya suaminya tidak memberi dia uang belanja dan dia hanya menangis terus, aku sudah bilang agar dia bersabar”, jelas Dita.
Aku sendiri tidak tahu, apa yang harus kulakukan. Lisa sudah memutuskan untuk beristirahat dan tidak bekerja dulu untuk sementara waktu. Ia ingin menyelesaikan masalah dengan suaminya, dan dia tidak meminta pertolonganku. Aku sesungguhnya mengerti semua ini pastilah masalah keuangan, hanya saja baik Lisa maupun suaminya tidak berusaha untuk jujur dengan keluarga bahwa kehidupan mereka di Jakarta masih jauh dari kata ‘berlebih’. Lisa tidak mau bersabar dan menerima ujian ini dengan berbesar hati dan lebih rajin lagi bekerja. Ia ingin cepat merasakan hasil kerjanya, dan dapat menikmati masa-masa jaya sewaktu masih belum menikah, dimana ia bebas menggunakan gaji miliknya untuk membeli baju, perhiasan ataupun ke salon seperti dulu.
Sewaktu masih sendiri, ia merasa iri melihat orang lain yang sudah punya pasangan, dan ingin secepatnya menikah. Dia berharap apabila sudah bersuami, ia tidak perlu lagi bekerja susah payah. Dengan adanya seseorang disampingnya, ia merasa bebannya akan lebih ringan. Ia berharap agar suaminya bisa memberikan kebahagian yang sesuai dengan harapannya. Ternyata setelah menikah, dia harus berbagi dengan keluarga, baik anggota keluarganya maupun dari pihak keluarga suaminya. Hal ini dirasakan sangat berat bagi Lisa, ia tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Bahkan untuk sekedar makanpun ia harus memohon kepada suaminya, sedangkan suaminya ingin kebutuhan makanan dapat diatasi dengan gaji Lisa setiap bulannya.
Sesungguhnya tidak mudah menemukan kebahagiaan di dalam diri kita sendiri, dan tidak mungkin pula mengharapkan atau mencarinya di tempat lain atau orang lain. Karena saat apa yang kita harapkan tidak terwujud, maka kita menjadi murung dan bersedih, bahkan mungkin menjadi depresi. Depresilah yang menyebabkan berbagai macam penyakit mendera kita.
Hal inilah sesungguhnya yang sedang dialami Lisa, dimana ia berusaha berbuat baik dengan harapan orangpun akan melakukan hal yang sama pada dirinya. Saat hal itu tidak terwujud ia mengalami kekecewaan yang berlarut-larut sehingga menimbulkan berbagai macam penyakit yang menggangu kinerja pekerjaannya. Tetapi tidak mudah menyadarkan seseorang bahwa tindakan yang menghukum orang yang telah menyakiti hatinya itu perbuatan yang salah. Hal itu hanya bisa semakin memperburuk keadan. Kita harus bisa merelakan apa yang telah terjadi, dan berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri.
Kebahagiaan sejati itu berada di dalam diri kita sendiri, tidak tergantung dari berbagai hal yang berada di luar kita. Diri kita sendiri yang menentukan kebahagiaan itu, walaupun mungkin pertolongan yang pernah kita berikan tidak mendapat penghargaan yang layak kita terima, tetapi kita harus tetap bahagia karena tahu bahwa perbuatan baik kita tersebut pastilah dicatat oleh Tuhan. Jadi temukanlah kebahagiaan sejati di dalam diri kita sendiri, bila kita mencarinya di luar maka kita tidak akan menemukan kebahagiaan sejati.













Cerita yang menarik dan banyak hal yang bisa di pelajari dalam cerita ini….
Tengkyuu buat pengarang nya … salam kenal
@Lisa : terima kasih atas komentarnya. Syukurlah kalau kamu mendapat manfaat dari cerita diatas, karena itu pulalah yang saya harapkan…
Salam Kenal juga….:D