HE NEVER SLEEPS
(Yulita Nilawati)
Sudah hampir jam 10 malam, saat Bertha dan Tommy keluar dari Rumah Sakit. Menunggu giliran memang pekerjaan yang membosankan, habis banyak waktu yang terbuang. Hari yang cukup melelahkan setelah habis pulang dari kantor, tetapi semua ini merupakan syarat yang harus mereka jalani. Setelah beberapa saat menunggu kendaraan yang belum lewat, sehingga timbul perasaan kesal. Apalagi warna langit tampak memerah, rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan “acara” kehujanan.
Setengah berlari, kami mencari tempat untuk berlindung. Terlihat sebuah tenda sederhana, masih ada 1 penjual sate padang yang masih mangkal dipojok jalan itu. Segera kami memutuskan untuk berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani segelas kopi, sebatang rokok dan lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan kami duduk. “Disini saja nak, daripada kehujanan…”,begitu katanya saat kami meminta ijin berteduh.
Tak lama hujan turun mulai deras. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual, kami memutuskan untuk memesan sate padangnya. “Tolong bikin 2 porsi satenya, ya pak!” pinta Bertha. Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan alat pembakarannya. Tak lama asap putih yang mengiringi bau harum daging yang dibakar mulai tercium oleh kami. Dia tampak sibuk memotong lontong sambil sekali-kali mengipas-ngipas satenya. Tak membutuhkan waktu yang lama, dengan cekatan sekali sate padang itu sudah tersedia dihadapan kami.
Sambil menyerahkan 2 porsi sate padang ia bertanya, “Mau minum apa nak?, teh hangat atau air aqua”. “Ada teh manis hangat nggak pak!’ tanya Tommy. “Maaf nak kebetulan gula pasirnya habis, tadi bapak tak sempat membelinya lagi!”, jawabnya sambil tersenyum. “ Kalau begitu pesan teh hangatnya saja pak!”. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Sambil basa-basi Tommy bertanya, “Wah kalau hujannya bertambah deras, makin jarang orang yang keluar ya,…Pak?”. Bapak itu menoleh ke arah kami, dan berkata, “Iya nak, jadi sepi nih dagangan saya..” katanya sambil kembali menghisap rokok dalam-dalam.
“Wah, rezekinya jadi berkurang dong pak?” seharusnya tak kulontarkan pertanyaan bodoh itu pikir Bertha. Pastilah bapak itu akan bertambah sedih. Namun, sepertinya Bertha keliru. “Tuhan itu tidak pernah tidur, nak!”,begitu jawabnya. “Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya.” Bapak itu melanjutkan, “Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan…”
Deg, Dug, hati kami tergetar mendengar jawabannya. Bapak itu benar, “Tuhan itu tidak pernah tidur”. Tuhan memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Kami rupanya selama ini telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang kami punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan yang sederhana itu. Maknanya terlampau dalam,membuat kami sejenak berpikir dan menyadari kekerdilan kami di hadapan Tuhan.
Banyak orang termasuk kami selalu berpikiran, bahwa hujan sering membawa bencana, dan petaka bagi banyak orang, mengingat banyaknya kejadian banjir yang melanda hampir diseluruh bagian tanah air. Bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan kami juga berpendapat, bahwa saat
ada ujian yang menimpa, maka itu artinya kami cuma harus bersabar.
Namun kita keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa
menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi
sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun
derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung,
atau mendorong mobil yang mogok.
Hmm…kami makin bergegas untuk menyelesaikan sate padang itu. Beribu pikiran
tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak kami masing-masing. “Ya Tuhan, Engkau Memang Maha Kuasa yang Tak Pernah Beristirahat” Untunglah, hujan telah reda, dan kamipun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata-kata itu yang teringat, Dia tidak pernah tidur……Dia tidak pernah tidur……
***
Sahabat…, tanpa disadari kita sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan kita.
Tuhan selalu punya banyak rahasia, dengan mengingatkan kita dengan cara yang
tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada kita lewat hal-hal yang
sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat kita menjadi semakin banyak belajar dan bersyukur.
Sebelumnya saya sering berharap, bisa melewati tahun-tahun dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, setiap bertambah usia, harus ada hal besar dan menakjubkan yang saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Tuhan punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Tuhan-pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.
Aku berdoa agar diberikan kekuatan…Namun, Tuhan memberikanku cobaan agar aku
kuat menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan…Namun, Tuhan memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.
Aku berdoa agar diberikan kecerdasan…Namun, Tuhan memberikanku otak dan
pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.
Aku berdoa agar diberikan keberanian…Namun, Tuhan memberikanku marabahaya agar aku mampu menghadapinya
Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang…Namun, Tuhan memberikanku
orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.
Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan…Namun, Tuhan memberikanku pintu
kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya













ya Gusti Allah ora sare
bener tuh!, setelah lama berjalan, malah belajar banyak dari orang2 kecil,
mereka kadangkala lebih punya keyakinan yang kuat akan kebesaran Gusti Allah.
aku setuju…^^
@ Irene : Hallo irene…, Salam kenal ya…:)