Nothing has Changed

(Yulita Nilawati)

Malam semakin larut, laptop yang menemaniku baru hendak ku tutup, ketika layar kecil disudut bawah kanan muncul. Siapakah dia..? Sudah beberapa bulan ini, layar itu tertutup seperti tertutupnya pintu kecil direlung hatiku yang terdalam. Baru beberapa minggu ini aku membukanya kembali. Begitu sensitifnyakah aku ? Mungkin ada benarnya, tapi aku banyak belajar bahwa hal itu tidak membawa hal positif.

Mengalami dan merasakan hal-hal yang diluar keinginan membuat hatiku gundah.  Sudah benarkah jalan yang kupilih untuk menjalin persahabatan ini. Setelah sekian lama kututup rapat, ketika kucoba membuka kembali pintu ini, kembali hatiku kecewa. Setiap kali kecewa itu muncul, secepat itu pula kututup pintu itu. Aku merasa membutuhkan waktu untuk mengembalikan rasa yang ada.

Rasa itu akan kembali, setelah kuyakini Jalan DIA-lah yang harus kutempuh. Kembali kubuka pintu itu, kubiarkan pikiran dan hayalanku bermain. Keceriaan, petualangan, kegembiraan, pesona, keberanian semua bercampur jadi satu. Kubiarkan semua mengalir, tak kuhiraukan suara sumbang selain suara hati dan suara-Nya. Kuingin hanya tanda-Nya, bila petualanganku melampaui batas. Hanya DIA, sahabat sejatiku, kupercaya setulus hatiku, tak pernah mengecewakanku. Semua kebahagiaan yang kudapati, hanya karena campur tangan-Nya semata. Hanya DIA yang tak pernah berubah, tidak bersembunyi, tidak bermegahkan diri, selalu bersemayam direlung hati. Ia memberiku kebebasan, keyakinan, kepastian dan tak pernah ingkar janji.

Keegoisanku terasa menang saat itu. Memang perlu waktu untuk memahami apa yang telah terjadi. Hari demi hari kujalani dengan terus berdiam diri, melakukan berbagai intropeksi ke dalam diri ini. Sejenak kuberalih ke berbagai tempat mencari situasi yang berbeda. Kudapati suatu tempat yang membuka mata hatiku. Kuingat kembali perjalanan yang telah kulakukan. Kutemukan berbagai literatur buku-buku yang berhubungan dengan situasiku. Semakin kudalami isi buku-buku tersebut, semakin aku tak menginginkan situasi ini.

Aku ingin merdeka, ku tak ingin terbelenggu dengan situasi ini. Ini tak menyehatkan diriku, dan lingkungan orang-orang yang kucintai. Mungkin aku seorang yang menyenangi cara belajar yang otodidak karena aku termasuk orang yang sensitif sehingga aku tak ingin menambah rumit masalah dengan campur tangan orang lain dalam mengatasi situasiku saat itu.

Kubaca setiap status mereka yang pernah menyakitiku, kupelajari dan kucoba memahami apa yang mereka pikirkan. Aku mencoba menata kembali perasaanku serta mencoba menerima diri mereka apa adanya. Seperti diriku yang tidak sempurna, begitupun juga dengan mereka. Kucoba melupakan setiap luka dan menata kembali kedekatanku dengan mereka dan terutama hatiku yang telah membiarkan hal ini terjadi. Hanya Tuhanlah Yang Maha Sempurna…

Baca juga

  • Salahkah? (64)
  • Masih Pentingkah Aku Bagimu?
  • tetes dhuafa
  • Thank God I Found You Part 9
  • Kado (dari) Bang EWA
  • [Seri Ayah] Semangkuk Mie Ayam
  • pura pura saja
  • Ah, Tuhan…
  • Gue
  • Questions Book ( page 58 )

Leave a comment

Your comment