Pintaran Siapa?

(Yulita Nilawati)

Hari ini sekilas aku membaca berita dari ‘KORAN FESBUK’, dimana banyaknya pencurian melalui ATM.  Setidaknya ada 6 bank yang berhasil dijebol oleh para sendikat international. Bayangkan bagaimana bisa setiap 20 detik, uang kita di rekening bank bisa lenyap begitu saja. Salah satu penyebab terjadinya pembobolan tabungan melalui ATM adalah pelaku mengetahui nomor rekening dan nomor pin ATM korban.

Hal ini membuatku teringat kembali kejadian hari Senin tgl 18 Januari 2010. Siang itu  telpon berdering berkali-kali dirumahku.  Sebenarnya aku agak malas mengangkatnya, tapi karena merasa terganggu akhirnya kuangkat juga telpon tersebut.

“Hallo…., selamat siang!!, apa betul ini nomor telpon 822xxxx”, terdengar suara dari seberang sana.

“Ya…betul!, ada apa pak!” sahutku

“Dengan siapa saya bicara?”, tanyanya.  “Bu Tommy…, “jawabku.

“Begini bu…., apa ibu sendiri yang membayar  telpon ini setiap bulannya” , tanyanya lagi.

“ Iya…betul, ada apa ya..!” , sahutku dengan jengkel  (mau tahu saja pikirku).

“Kami dari Telkom ingin menyampaikan, bahwa nomor  telpon ibu sudah memenangkan Hadiah Utama sebuah sepeda motor  ‘Yamaha Mio’.   Apakah ibu telah menonton acaranya di Trans 7 kemarin malam,  selamat ya…, ibu tidak dipungut bayaran apapun, hari ini juga kami akan mengirim hadiahnya”,  katanya  sambil menjelaskan  padaku.

“Oohhh ya, ….! “, sahutku dengan tenangnya.  Entah mengapa… mendengar dia menjelaskan, aku sama sekali tidak tertarik, karena telpon seperti ini sudah berkali-kali aku terima, dengan berbagai macam cara.

“Coba  tolong ibu catat, nama saya Dede Irawan bagian operator “, jelasnya lagi.

“Tolong ibu menghubungi pimpro kami Bapak Hj. Hermawan (pak Hajinya berkali-kali diucapkan,  mungkin agar aku yakin) di nomor telpon  4032.7374 untuk konfirmasinya. Kami tunggu secepatnya ya bu…, karena barangnya akan dikirim hari ini juga”, desaknya lagi.  Walaupun dengan perasaan yang agak jengkel, aku berusaha untuk sopan.

Seperti biasa aku selalu menghubungi suamiku untuk melakukan kroscek atas kabar-kabar seperti ini.  Aku sengaja tidak mau melakukannya sendiri  lewat telpon yang sama, agar jangan sampai terjadi penarikan pulsa seperti yang pernah kudengar. Walaupun aku sendiri tidak mengerti bagaimana  caranya, tapi tindakan hati-hati sangat diperlukan, untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.

Kujelaskan semua kepada suamiku berita yang kudapat, ia berjanji akan memberi kabar atas krosceknya.  Sehabis menghubungi  Tommy aku berdoa sejenak, memohon agar apabila hal ini tidak baik bagi kami agar Tuhan jauhkannya dari kehidupan kami.

Sekitar 15 menit  kemudian, Tommy menghubungiku  dan menjelaskan bahwa ini jelas-jelas penipuan.

“Bagaimana kamu tahu!”.

”Apakah kamu sudah menghubunginya?”.

Sambil tertawa Tommy menjelaskan bahwa ia telah menghubungi bagian informasi 108,  dijelaskan bahwa telpon yang dimaksud tidak terdaftar di Telkom, dan ini adalah nomor telpon CDMA. Mana mungkin orang Telkom malah menggunakan telpon CDMA.

“Kamu tahu…,  tadi aku iseng menghubungi mereka,  dan menjelaskan bahwa aku sedang di luar kota lalu mendapat kabar tersebut dari orang dirumah. Tapi mereka bilang akan mencek dulu file mereka, dan akan menghubungi kita kembali”, jelas Tommy lagi.

“Apakah mereka ada telpon kemari lagi?”, tanya Tommy sambil diselingi tawa.

“Belum sih!”, sahutku. “Ok deh..! Aku kerja dulu,….nanti hubungi aku lagi kalau ada apa-apa”.

Peristiwa itupun kulupakan, dengan tidak adanya telpon yang menghubungiku kembali.

Sejenak sebelum kami berangkat tidur, Tommy bercerita bahwa ia tadi menghubungi mereka lagi untuk melampiaskan kekesalannya.

“Bagaimana pak!, …..sudah ketemu file-nya?”, ejek Tommy.

Kembali mereka  mengatakan belum menemukan file yang dimaksud.

“Ok.., saat ini posisi Bapak ada dimana?”, tanya Tommy kembali.

“Saya ada di Telkom”, sahut mereka penuh percaya diri.

“Ooohhh,….gitu ya!, saya koq heran, kenapa saudara di Telkom tapi menggunakan telpon dan nomor CDMA untuk menghubungi customer?”, kata Tommy.

“Sudahlah pak!…kalau mau menipu itu kira-kira dong!”, akhirnya keluar juga kata2 itu.

“Eeeehhh ……, anda jangan sembarangan ya…, kalau bicara!”, hardik orang diseberang sana.

“Masak ngakunya orang Telkom,… tapi pake nomor CDMA”, balas Tommy sambil tertawa.

Gubbrraaaakkkk….., terdengar telpon disana ditutup.  “Dasar Penipu….., tidak smart kalau tidak dibilang bodoh dalam melakukan aksinya.  Kena loe gue kerjain”,  puas rasanya telah mengatakan hal itu,  kata Tommy sambil menutup ceritanya.

Tertarik dengan yang ini?

  • Untuk Bunga
  • Gadis Itu Aku
  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Masalah sepele
  • Belajar menghargai …
  • Ide Mampet?
  • I’m in a bad mood
  • Kenapa ya?
  • My Life is never the same
  • Yuk Nulis!

Comments (4)

Si ToingFebruary 18th, 2010 at 9:36 pm

Yang seperti ini sudah sering saya alami via SMS. Ngakunya dari INDOSAT, tapi menggunakan nomor Telkomsel, atau ngaknya dari XL, tapi pakai nomor Indosat ;) . Biasanya yang seperti ini saya balas :”terimakasih, tapi hadiahnya kekecilan, ambil buat anda aja deh. Selamat ya” Hehehe ….. ;) . Tapi itu juga kalau saya lagi mood becanda, kalau nggak, langsung saya delete smsnya …..

berthaFebruary 19th, 2010 at 4:23 pm

@ si Toing : Salam kenal ya??….
emang yebelin banget deh!,….
pernah di-becandain juga sih! atau langsung didelete kalau lewat sms, tp karena sekali ini lewat telkom jadi pengen tahu juga….:D

HennyMay 14th, 2010 at 9:51 pm

@Yulita, Si Toing, dan bertha:
penipuan model hadiah terbilang ringan (dalam arti tidak menimbulkan efek samping selain terkejut gembira-bagi yang terpengaruh) cuma ada modus lain yang membuat si penerima bisa jantungan dan panik. Si penipu menelpon dengan kabar kecelakaan hebat yang dialami anggota keluarga dan memerlukan dana operasi, maka dalam kondisi panik seseorang bisa saja mentransfer uang ke rekening si penipu.

Salam

Yulita NilawatiAugust 21st, 2010 at 6:54 am

@Henny : Salam Kenal ya…:)
benar sekali hal itu pernah dialami oleh suster adikku yang mendapat berita bahwa ibunya sedang mendapat masalah jadi diharap mengirimkan uang. Awal 150 rb, lalu 200 rb dan terakhir 150 rb lagi. Sepertinya sejak telpon itu diangkat dia seperti ter-hipnotis untuk mengikuti keinganan si penelpon. Setelah uangnya raib, dia baru teringat untuk menghubungi keluarga di kampung menanyakan masalah apa yang terjadi. Nah.., dr situlah diketahui bahwa semua itu hanya tipuan karena ibunya di kampung dalam keadaan sehat tanpa masalah yang berarti.

Terima kasih ya…., semoga hal ini tidak menimpa kita semua.

Leave a comment

Your comment