Seharusnya Indah….

(Yulita Nilawati)

Semenjak surat Undangan itu kuterima, tak lepas dari benakku apa yang akan kukenakan dihari istimewa itu. Padahal hari indah itu masih 2 minggu lagi tapi persiapan yang kulakukan seperti aku sendiri yang akan merayakannya. Pernikahan Silvia, sahabatku sewaktu di SMA, begitu membahagiakanku. Akhirnya ia menemukan cinta sejatinya, begitu yang terlintas dalam benakku. Walaupun tempatnya jauh dan waktunya malam hari, tak menghentikan niatku untuk menghadirinya. Membayangkan menikah di JHCC, pada saat perekonomian di negara ini sedang dilanda krisis moneter, pastilah bisa dikatagorikan mereka yang berkantung tebal.

Walaupun dengan sedikit memohon, akhirnya izin dari orang tua dapat kuperoleh. Biasanya orangtuaku agak keberatan kalau anak-anaknya pergi sendirian pada malam hari. Berhubung saat itu aku belum memiliki pasangan, kuajak adikku untuk menemaniku. Kebetulan dia menyukai acara pesta, apalagi makan-makan ditempat yang mewah seperti di JHCC.

“Ayo dong Sin.., temenin aku!,  dimana lagi kita bisa makan enak, gratisan lagi, kalau tidak di acara pernikahan!”, bujukku.

Hampir  4 jam kami mempersiapkan diri, agar pantas berada ditengah orang-orang ‘Elite’ itu. Mobil box butut, pinjaman dari teman adikku datang menjemput. Hawa panas dari mobil tanpa AC itu, membuat kami harus berkali-kali melihat kaca, sekedar untuk memperbaiki make-up wajah serta rambut yang sudah berjam-jam ditata.

Perjalanan yang jauh dari Bekasi ke Sudirman (JHCC), diselingi dengan macetnya jalan yang harus kami lalui, membuat risau hatiku. Kulihat berkali-kali jam yang kukenakan, sudah menunjuk jam 20.00 WIB, berarti  tinggal 1 jam lagi acara berakhir. Tepat jam 20.15 WIB kami tiba, setelah berputar-putar  karena banyaknya antrian undangan yang hadir, membuatku lengah. Dengan yakin kami memasuki pintu dan menyerahkan uang angpau yang telah kupersiapkan.

“Ayo…, kita salaman dulu dong!”, ajakku sambil menarik lengan Sinta.

“Aaaahhh….., masih panjang banget antriannya, entar aja sekalian pulang!”, jawab Sinta.

“Mendingan kita makan dulu, aku sudah laper banget nih!”, bujuk Sinta lagi.

Kulihat wajah Sinta yang cemberut karena kelaparan, akhirnya kuputuskan untuk mengikuti ajakannya. Sambil berjalan menuju meja hidangan prasmanan, aku melirik ke kiri dan kanan sekedar memastikan apakah ada teman-teman kami sewaktu di SMA. Tak kutemui satupun teman-teman kami. Mengingat pesan dari Silvia bahwa hanya teman dekat, selebihnya kerabat dekat dan teman-teman sejawat kedua orangtua dari mempelai yang diundang, kulupakan niatku untuk mencari teman-teman yang lain.

Ternyata walaupun waktu tinggal 45 menit lagi, makanan yang terhidang masih berlimpah. Banyaknya tamu yang hadir menyulitkanku untuk sekedar melihat ke arah pelaminan. Musik yang mengiringi artis terkenal itu, membuat kami terpana sambil menikmati aneka makanan dan alunan lagunya. Kira-kira 15 menit kemudian, baru bisa mataku menatap ke arah pelamian dan ingin kulambaikan tangan, agar Silvia tahu akan kehadiranku. Tetapi  betapa kuterkejut, kedua mempelai itu sama sekali tidak kukenal. Kami berada ditempat yang salah, kubisikkan hal itu ketelinga Sinta.

“Ayo…, kita keluar saja!” , ajakku.

“Aduuuhh….lagi tanggung nih!”, jawabnya.

“Kita pergi keruangan yang lain saja!” desakku.

“Waktu  tinggal 30 menit lagi, mau pindah ke tempat  yang lain?”, tanyanya.

“Lalu…, bagaimana uang angpau-nya ?”, tanya Sinta lagi.

“Eeehhh, …benar juga, angpaunya bagaimana!”, jawabku

Kami  tak membawa kertas angpau lagi, dan untuk meminta kembali uang yang telah diberikan rasanya kurang nyaman, karena kami telah kenyang memakan berbagai macam hidangan yang tersedia.

“Sudahlah…, kita disini saja, makanannya enak-enak, apalagi penyanyinya artis favoritku!”, pinta Sinta. Ruth Sahanaya artis idola kami, kembali melantunkan lagu-lagu yang membuat kami lupa akan kesalahan yang terjadi.

“Besok saja telpon minta maaf, kamu tak bisa datang karena sakit”, bujuk Sinta lagi sambil asyik menikmati makanannya.

Dengan perasaan menyesal karena kurang teliti, akhirnya aku pasrah dan mengikuti kehendaknya. Tak mungkin aku memaksanya, aku sendiri agak kuatir juga, jangan-jangan sesampai diruangan lain, kami tetap tak bisa menemui Silvia dan pasangannya.

Keesokan harinya, kuhubungi sahabatku dirumahnya, maklum saat itu belum ada telpon seluler seperti saat ini. Terlambat sudah…., mereka telah pergi ‘honeymoon’,  itu jawaban yang kuterima, baru minggu depan mereka kembali. Kuputuskan untuk menghubunginya minggu depan, sepulangnya dari honeymoon ke Australia.

Seminggu berlalu, akupun menghubunginya untuk mengucapkan selamat serta permohonan maafku,  atas ketidakhadiranku dihari bahagianya.

“Sil…, ini aku Bertha. Selamat Berbahagia ya!, sorry… banget yah! aku nggak hadir saat hari bahagiamu!”,  kataku saat terdengar suaranya di telpon.

“Ooohh…., nggak apa-apa koq Bert!”

“Kamu ada waktu nggak!….kita ketemuan yuk!”

“Boleh saja…., tapi hari Sabtu ya!”

“Ok deh!…, dimana?”

“Aku sekarang tinggal di Warung Buncit, kamu datang ke rumah saja”

“Catat nih alamat rumahku!,….jalan Warung Buncit III no. 18, dekat Salon Karina!”, kata Silvia lagi untuk memastikan agar aku tak nyasar mencarinya.

“Ok deh!,…sampai hari Sabtu ya, bye…bye…!”,  jawabku sambil menutup telpon.

Sabtu siang itu, kutemukan juga alamat rumah Silvia. Rumah bercat hijau muda dan berpagar putih itu, disudut kanan ada pohon mangga gedong, dengan buahnya yang sedang ranum membuat siapapun ingin memetiknya. Memasuki pagar, kulihat tak jauh dari pohon mangga tersebut ada sebuah kolam ikan kecil, dihiasi dengan air terjun kecil buatan dan berbagai tanaman bunga serta dedaunan, yang menambah keasrian rumah tersebut.

Kudengar pintu rumah dibuka, ternyata Silvia sudah menanti dengan cemas kehadiranku.

“Syukurlah…., akhirnya sampai juga, aku takut kamu nyasar!”, katanya diselingi dengan senyum manisnya.

“Hahahahaaaa……, Kalau sampai nyasarkan bisa telpon atau tanya orang lain”, sahutku sambil tertawa.

“Ayo…, mari masuk ke dalam saja!”, ajak Silvia.

“Kayaknya….enakan ngobrol disini saja deh!”, jawabku sambil duduk dikursi teras panjang.

“Hawanya begitu sejuk nyaman, padahal hari masing siang!….pinter banget kamu pilih rumah ini”, pujiku sambil menatap keindahan taman mungil yang asri itu.

“Gimana,…cerita dong! ….pasti meriah banget pestanya”.

“Aku ngga bisa ngasih apa-apa nih! sahutku sambil menyerahkan sebungkus kado yang telah kupersiapkan sebagai hadiah pernikahannya.

“Hallaah….. repot-repot amat sih! pake bawa kado segala”, kata Silvia sambil tersenyum kecut.

Waahhh….apa tadi aku telah salah ngomong, pikirku setelah melihat senyum kecut disudut bibirnya.

“Untung kamu nggak hadir, pada acara hari itu!”

“Loohh…koq gitu sih!, memang acaranya kacau yah!”, tanyaku dengan polosnya.

“Sebel aku, sama dia,….nggak ada terima kasihnya!”.

Jawaban Silvia itu, malah membuatku bertambah bingung.

“Sorry nih!…emangnya dia itu siapa?, sampai bikin kamu sebel kayak gini sih!”, kembali kubertanya.

“Ya …..itu, siapa lagi kalau bukan Sonny suamiku!”, jawabnya.

“Dia pikir…., bikin acara seperti itu nggak ngeluarin uang banyak apa?”, kata Silvia lagi dengan berapi-api, karena terbawa hawa amarah.

“Memangnya….Sonny bilang apa! ,… sampai kamu marah seperti ini?”, tanyaku sambil penasaran.

“Tunggu sebentar ya!,… kuambilkan minum untukmu dulu, sampai lupa aku!”, pinta Silvia.

Sambil menunggunya keluar, aku dibuat semakin bingung mendengar keluhan yang dilontarkan dari mulut mungilnya yang selama ini selalu terdengar kata-kata yang manis dan lemah lembut.

Silvia keluar dengan membawa segelas air jeruk dan selembar kertas. Apa sih itu, pikirku.

Setelah meletakkan gelas dan duduk kembali disebelahku, Silvia memperlihatkan selembar kertas yang telah disambung kembali.  Setelah kuyakini, ternyata itu adalah selembar surat pernikahan yang telah disobek menjadi 4 bagian.

“Aku kayaknya mau mengajukan pembatalan pernikahan saja”, katanya memecahkan keheningan diantara kami.

“Memangnya bisa?”, tanyaku mengingat kami sama-sama beragama Khatolik.

“Ya…bisalah, ini penipuan namanya?” kembali ia melontarkan kejengkelannya padaku.

“Maaf sebelumnya, apa yang telah dilakukan Sonny sampai kamu merasa ditipu?”, tanyaku lagi.

“Sonny telah menyakiti hatiku serta keluarga besarku, dengan perkataannya pada hari pernikahan kami”.

“Dia merasa uang yang telah diberikan sebagai emas kawinnya, tidak sesuai dengan perayaan pesta pernikahan yang telah diselenggarakan, padahal kami dari pihak wanita telah banyak mengeluarkan biaya untuk acara pesta tersebut!”, cerita Silvia.

“Keluargakupun telah tersinggung dan mendukung segala keputusanku”, kata Silvia geram.

“Sekarang dia ditugas ke Medan, meninggalkanku disini!”, kembali terdengar kejengkelan dari nada suaranya.

“Dia bilang gajinya masih terlalu kecil, biaya hidup di luar kota besar, aku diminta sementara mengatasi biaya hidupku sendiri disini”, keluh Silvia lagi.

“Apakah sebelum menikah kalian sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya?”, tanyaku untuk  meredakan kemarahannya.

“Aku tahu ini memang sudah jadi tugasnya sebagai pegawai negeri, tapi aku tidak setuju dengan keputusannya menjadi pegawai negeri” , cerita  Silvia.

“Padahal dia sudah mendapat jawaban lamaran dari perusahaan swasta dengan gaji yang lebih besar, tetapi ia malah lebih memilih untuk berkarier sebagai pegawai negeri dengan gaji yang kecil”, keluh Silvia.

“Coba tenangkan dirimu terlebih dahulu, pikirkan lagi masak-masak keputusanmu”, kataku sambil menenangkannya.

“Jangan terbawa emosi sesaat, harusnya masa ini adalah saat-saat terindah bagi kalian berdua”.

“Aku sebagai teman hanya bisa memberikan dukungan doa, agar kalian berdua menemukan jalan yang terbaik bagi kelangsungan hubungan kalian”.

Silvia hanya diam tanpa berkata-kata, kutahu dia bukanlah orang yang mau dengan mudahnya menerima nasehat dari orang lain, terutama dari aku teman seusianya.

Pertemuan kami siang itu harus berakhir karena matahari sudah berada di ufuk Barat.  Dengan menyelesaikan tegukan minumanku yang terakhir, ku mohon pamit pulang. Ku bawa pulang cerita cinta dari perkawinan temanku yang masih terlalu dini, dimana seharusnya masih merupakan saat-saat terindah mereka dalam menjalin hubungan suami istri. Tetapi kenyataannya penuh dengan gejolak amarah.

Tertarik dengan yang ini?

  • Na, Jaga Diri Lu (2)
  • Kasih (Ibu)
  • Untuk Bunga
  • Batas Kasih 2
  • Aku belajar dari anjingku
  • Training Ulang Si Ego
  • Dear Mom
  • Mimpi Berhadiah
  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • (Feels like) Stranger in My Own House Part 1

Comments (6)

irene wibowoFebruary 23rd, 2010 at 3:07 pm

menarik banget…^^ like it

berthaFebruary 23rd, 2010 at 10:01 pm

Hai…Irene…Salam Kenal!,…
Semoga hal tersebut tidak dialami oleh teman2ku yang lain
thank’s ya kalau kamu menyukainya…:)

FemikhiranaFebruary 24th, 2010 at 1:46 am

waduh… satu lagi pernikahan antik yang kutahu hehehe…
semoga terjadi yang terbaik di antara mereka saja deh hihihi

berthaFebruary 24th, 2010 at 7:43 am

@femi : harapan kalian menjadi harapananku juga….
walaupun, sejak saat itu dia menjaga jarak denganku…hiks…hiks…:)

christina is amidaNovember 19th, 2010 at 3:33 pm

hmm………….cerita yang menarik……saya masih penasaran dengan endingnya ? semoga happy ending ya??!!!

berthaJanuary 20th, 2011 at 2:05 pm

@amida : thank ya, atas apresiasinya….ide yang bagus tuh…^_^

Leave a comment

Your comment