Menunggu Maaf…
(Yunie Batue)
“ Tolong jangan memaksa ku lagi…???” pinta ku ke Ramon. Melihatnya kembali aku merasa sangat senang, tapi aku juga merasa sangat kecewa. Kenapa setelah sekian lama dia pergi meninggalkan ku. Tanpa kabar sedikitpun, tanpa ada sepatah kata perpisahan. Sekarang dia hadir didepan ku, mengharapkan ku memaafkannya dan menerimanya kembali. sanggupkah aku memaafkan perbuatannya pada ku selama ini.
Kenapa aku merasa begitu sulit untuk memaafkannya, apalagi untuk menerimanya kembali. saat aku melihatnya saja, aku kembali merasakan sakit yang telah lama ku obati dengan susah payah. Kini serasa muncul kembali ke permukaan di hati ku. Tanpa banyak berkata apapun, aku pun pergi meninggalkannya sendiri. Aku bukan tidak ingin bicara padanya, tapi aku belum sanggup untuk bicara dengannya. Aku tidak ingin menangis di depannya.
Malam ini serasa begitu sangat lama, aku tidak bisa tidur dengan nyeyak. Aku terus saja memikirkannya, memikirkan ucapannya tadi siang. “ Maafkanku Lex, aku tahu aku telah banyak menyakitimu, membiarkanmu menunggu tanpa kepastian sedikitpun. Bahkan mungkin aku telah banyak mengecewakanmu. Aku sadar, aku tidak akan bisa mendapatkan maafmu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk itu.” Kata-kata itu selalu terngiang di telingaku. Seolah Wajah dan suara Ramon selalu ada didekatku.
Aku terus berguling-guling di atas kasur. Aku benar-benar tidak bisa memejamkan mata walau hanya semenit. Aku pun mengambil keputusan untuk menghubungi Ramon. Mengajaknya bicara, walau sulit untuk ku. Tapi aku akan mencoba sebisa dan semampu ku. Ku sambar jaket diatas kursi, pergi untuk menemui Ramon di tempat yang sudah ku bicarakan tadi Di Telpon.
Taman deket komplek emang sepi banget, apalagi ini udah jam dua malam. Jadi gak mungkin ramai. Aku duduk di ayunan sambil menunggu kedatangan Ramon. Aku sangat mengenalnya dan aku yakin dia pasti akan telat sampai sini. Walau begitu aku akan menguji keseriusannya. “ kamu datang ke taman dekat komplek rumahku sekarang, aku tunggu setengah jam dari sekarang.” Itu kata ku dibalik telpon saat bicara dengannya tadi.
Aku tersenyum puas saat melihat Ramon datang tepat waktu, walau dengan nafas yang sangat tidak beraturan. Baju yang basah kuyub dengan keringatnya sendiri. Melihatnya seperti ini, perasaan ku sedikit melunak. Aku sadar, aku tidak dapat membohongi perasaan ku sendiri. Aku hanya ingin memcoba mendengarkan penjelasannya. Aku sangat ingin tahu jawaban atas beribu pertanyaan yang dating menghampiri ku selama ini.
“ Terima kasih karna telah memanggil ku, sekali lagi aku ingin minta maaf padamu Lex. Saat itu kondisi ku sangat tidak baik, dan aku tidak mungkin menghubungimu. Di tambah lagi, aku harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah ku yang sangat amat banyak. Aku hampir tidak punya banyak waktu luang. Sepulang kuliah, aku langsung kerja paruh waktu. Papa yang jatuh koma dan harus berada dirumah sakit selama hampir satu tahun. Sedangkan Mama sibuk dengan pekerjaannya untuk membiayai Papa. Aku tidak sanggup bila membebankan biaya hidup ku kepada Mama. Itu sebabnya aku memutuskan untuk bekerja paruh waktu di Sidney. Aku juga tidak menghubungi Mama, sama seperti aku tidak pernah menghubungimu. Bahkan sampai Papa meninggal pun aku tidak bisa pulang ke Jakarta. Kondisi keuangan ku yang tidak stabil, membuat ku harus menahan untuk tidak menghubungimu. Walau aku sangat merindukanmu, tapi aku tidak akan sanggup bicara denganmu.” Ramon yang bicara dengan sangat tenang.
Melihatnya seperti ini, hati ku semakin sedih. Bukan karna kesalahanya yang tidak pernah memeriku kabar. Menyuruh ku menunggunya tanpa ada kepastian, sampai kapan aku harus terus berharap dia akan kembali. aku ingin sekali mengerti akan kondisinya saat itu. Seandainya dia memberitahu ku tentang keadaannya. Aku mungkin tidak akan seperti ini. “ tapi kenapa kamu tidak pernah memberitahu ku..?? kenapa harus menunggu tiga tahun..??”
“ maafkan ku lex, aku memang bodoh. Aku membuatmu menunggu tanpa sebuah kepastian sedikitpun. Aku juga sadar kalau kamu tidak mungkin bisa menerima ku kembali. aku kesini hanya ingin mendengar kamu mengucapkan maaf. Kata itu saja sudah sangat berarti untukku. Aku tidak ingin dan tidak akan berharap lebih lagi darimu.” Mendengar ucapan Ramon yang begitu pasrah tanpa ekspresi. Membuatku luluh dan ingin langsung memberinya maaf. Karna aku sendiri masih begitu mencintainya, tapi aku juga ingin mendapatkan kepastian. Aku tidak ingin tersakiti untuk kedua kalinya. “ aku akan memaafkanmu, asal kamu bisa meyakinkan ku. Dan mengembalikan kepercayaan ku padamu. Walau aku tahu itu akan sangat sulit untukku.”












@yuni : mungkin kamu memang tujuannya nulis penggalan perasaan ya? jadi kalau secara deskripsi, memang ini gak bisa disebut cerpen, karena gak ada awal, klimaks dan akhir. kalau penggalan begini akan lebih indah kalau ditulis format diksi, lebih merasuk hehehe… coba baca tulisan2 sandra atau angel, mrk kampiun untuk diksi. lalu soal ejaan aku … See Morehanya bisa kasih masukan singkat saja yang klise : setiap awal huruf kalimat langsung tetap huruf besar, lalu perhatikan awalan di, ke yang disambung atau dipisah (bisa baca teorinya di blog Yuk Nulis), dan kata ku bila disambung dengan kata kerja dasar harus disambung, misalnya kumakan, kusambar, tetapi kalau sudah ada kata dasar dengan awalan misalnya kamu tulis ku obati, seharusnya aku obati
moga2 berkenan (kan kamu minta masukan ya hehehe)
sorry mbak baru sempet lihat milis nih..:) nanti deh aku benerin lagi, soalnya aku kalo nulis emang suka ngasal. hehehe…
terus masih suka bingung sama penyatuan kalimat biar pas sama maksud yg pengen aku sampein ke tulisan, terus aku juga emg suka gak teliti. alias jarang cek ulang. jadi klo udah di tulis ya udah.. hehhee…. tapi mesti belajar buat rajin baca ulang tulisan sendiri ya… hehehe ^_^