Sang Jembatan Gantung & Sang Air Sungai

(Yunie Batue)

Mungkin sudah jarang kita akan menemukan Jembatan Gantung di Jakarta ini. Namun Jembatan Gantung ini masih ada dan masih terawat dengan baik di Jakarta. Lebih tepatnya Jembatan ini berada di Jakarta Barat. Jembatan yang dibangun sejak kapan aku juga tidak tahu pasti. Namun Jembatan yang dibangun di atas bantaran kali ini, memiliki banyak cerita.

Kenapa Jembatan ini disebut Jembatan Gantung..?? jawabannya, Jembatan ini tidak di semen dan tidak berpondasi. Jembatan ini hanya dihubungkan oleh besi – besi kecil yang dikaitkan di ujungnya. Jembatan ini juga hanya beralaskan kayu. Kayu yang suatu saat dapat keropos dan hancur dimakan oleh usia. Jembatan ini hanya boleh dilewati oleh pejalan kaki saja. Motor tidak boleh lewat di Jembatan ini. pasti tahu kan, kenapa motor tidak dizinkan menyebrang di Jembatan ini..?? ya sudah pasti, kalau motor dizinkan Jembatan gantung ini tidak akan berumur lama.

Cerita yang pertama……

Di atas Jembatan ini ada sepasang pengemis. Usia pengemis ini mungkin sekitar 80 tahunan. Aku menyebutnya Nenek dan Kakek. Hampir setiap pagi aku berjalan melewati jembatan ini. seperti biasa aku sesalu melihat Nenek di ujung jembatan dan Si Kakek di ujung Jembatan yang berlawanan. Si Kakek yang buta sedang duduk di atas Jembatan, menanti datangnya para Dermawan. Menanti seseorang memberikan sedikit uang Receh untuknya. Begitu juga dengan Si Nenek.

Mungkin bagi sebagian besar orang, Uang Rp.100,-, s/d Rp.500 tidak terlalu berarti. Namun bagi Nenek dan Kakek lain ceritanya. Bagi mereka mendapat Rp. 100 ataupun RP.500 akan sangat berharga untuk kelangsungan hidup mereka.

Mungkin juga kita pernah mendengar tentang Desa pengemis, Desa yang para warganya ber profesi sebagai seorang pengemis. Namun di Desa mereka tidak akan seperti pengemis, melainkan seperti orang yang sukses. Namun Nenek dan Kakek bukan berasal dari Desa tersebut. Jadi Nenek dan Kakek memang orang yang sangat ingin merasakan bahagia di hari Tua. Namun hal itu seakan sangat sulit dicapai oleh mereka. Jangankan kebahagian di hari Tua.  Mendapat makan Sehari tiga kali saja itu sudah hal yang membahagiakan bagi mereka.

Aku pernah bertanya pada Nenek dan Kakek. “ Nenek, apa Nenek tidak punya keluarga..??” jawab si Nenek begini. Nenek punya seorang anak, tapi Nenek tidak tahu dimana dia sekarang.” Mendengar jawaban dari sang Nenek membuat ku ingin bertanya kembali. “ Nenek terpisah dengan anak Nenek…??”

“ Bukan terpisah, tapi….” Nenek diam sangat lama, sepertinya pertanyaanku sangat dijawab untuknya.  “ Mungkin, anak Nenek sudah tidak sanggup merawat Nenek. Semoga dia bahagia bersama keluarga barunya. Nenek sudah tidak mempermasalahkan lagi, kenapa anak Nenek membuang Nenek.” Aku sangat kaget dengan ucapan sang Nenek yang begitu tegar. Walau aku yakin jauh dilubuk hatinya. Nenek sangat sedih dan ingin meneteskan air matanya. Aku saja tidak bisa menahan air mata, saat mendengar ada seorang anak yang tega membuang Ibunya yang sudah Renta. Ibu yang seharusnya dirawat dengan baik, sampai Tuhan mengambilnya kembali. aku hanya berdoa semoga sang Nenek mendapat kebahagiaan. sebelum dia meninggalkan dunia ini.

Lain lagi cerita dari sang Kakek. Sang Kakek memang hidup seorang diri. Dia tidak mempunyai anak juga Istri. Dulu saat sang Kakek masih muda dia bekerja sebagai seorang buruh angkut. Namun semenjak kecelakan yang menimpanya dia tidak lagi bekerja. Apalagi matanya sudah tidak bisa melihat. Oleh karena itu Kakek menjadi seorang pengemis di Jembatan Gantung ini.

Setelah mengetahui masa lalu Nenek dan Kakek aku selalu mencoba menyisihkan uang recehku untuk mereka. Walau kecil nilainya, setidaknya dapat membantu Nenek dan Kakek. Aku juga selalu berdoa setiap saat, agar Nenek dan Kakek mendapatkan kebahagian di Hari Tua mereka.

Cerita Kedua…..

Cerita kedua ini akan mengkisahkan antara Jembatan dan Air sungai. Jembatan yang selalu setia berdiri kokoh diatas air sungai yang mengalir. Walaupun bisa dikatakan Si Jembatan lebih beruntung ketimbang Si air. Setidaknya si Jembatan lebih terawat dibanding Si air. Walaupun Jembatan hanya beralaskan kayu, Dan tidak memiliki pondasi yang kuat. Selalu goyang bila dilewati orang. Tapi semuanya masih terawat dengan baik.

Sedangkan si Air memiliki nasib yang jauh lebih malang. Mungkin dulu si Air sangat bahagia, karena terlihat begitu bersih, Indah, banyak ikan yang berada didalamnya. Dan bisa  mengalir tanpa ada hambatan sedikitpun. Namun keadaan Air saat ini, sungguh sangat memprihatinkan. Air terlihat sangat kotor, kumuh, bau, dan banyak tumpukan sampah. Sehingga para ikan mati dan punah.

Suatu hari saat hujan turun terus menerus. Si Jembatan mengeluh pada Si Air.

“ Bisakah kau tidak merusak ku hingga seperti ini…??” pinta si Jembatan pada Si Air.

“ andai saja bisa, aku tidak akan melakukannya padamu. Aku juga tidak ingin merusakmu, sampah-sampah inilah yang merusakmu. Aku saja sulit untuk menolak keberadaan sampah ini.” keluh si Air pada si Jembatan.

“ iya aku tahu, tapi kau terlalu deras melewatiku. Aku tidak sanggup menahanmu, manusia saja takut melewatiku.” Balas si Jembatan yang sudah terkoyak oleh arus Air yang deras.

“ apa kau pernah merasakan kalau dirimu terlihat begitu menjijikan, kotor dan bau..??” Si Air yang tiba-tiba ingin mengungkapkan isi hatinya pada Si Jembatan.

“ aku pernah merasa kalau aku ini kotor dan bau. itu terjadi kalau sepatu atau sandal manusia kotor namun tetap saja melewatiku. Tapi kalau menjijikan aku belum pernah merasakannya. Kenapa kau bertanya seperti itu..?” balas si Jembatan yang merasa kalau dirinya memang tidak menjijikan.

“ aku hanya merasa sedih akan diriku saat ini. akibat sampah-sampah ini, aku menjadi kotor, bau dan menjijikan. Ditambah lagi, kalau hujan datang seperti saat ini aku jadi susah untuk bergerak. Dan akhirnya aku merusakmu hingga seperti ini. maafkan aku…..”

“ maafkan aku juga, mungkin perkataanku tadi telah menyinggungmu. Semoga saja para manusia itu mengerti perasaanmu saat ini. sehingga mereka tidak lagi menjadikanmu tempat sampah. Dan semoga saja mereka mau menjaga dan merawatmu. Sehingga kau bisa terlihat indah seperti dulu lagi. Kau cantik saat kau tersenyum, apalagi saat matahari pagi menerpamu.” Si Jembatan yang mencoba menghibur Si Air.

Mungkin aku tidak dapat sepenuhnya mengungkapkan perasaan sang Air. Tapi ku yakin kalau dia pasti merasa sangat sedih dan kecewa. Kenapa manusia begitu tega padanya. Merusaknya dan menjadikannya tempat sampah. Padahal Manusia sangat membutuhkan Air dalam hidupnya. Manusia juga tidak menginginkan banjir, jika saja Manusia dapat merubah sifatnya. Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, mau merawat dan menjaga kebersihan lingkungan. Terutama sungai, aku yakin tidak akan ada banjir di Jakarta. Bila semua orang yang ada didalamnya tidak merusak lingkungan mereka sendiri.

Jadi sebagai warga Jakarta yang baik. Mari kita jaga lingkungan kita, kalau tidak mau banjir melanda kita setiap kali hujan turun. Jangan lagi membuang sampah ke dalam sungai. Rawat dan jagalah sungai yang ada di Jakarta. Karna bila mereka terlihat bersih, maka mereka akan sangat terlihat indah.

Cerita yang ketiga ……

Ehmmmm…. Mau bahas apa yaw.. nanti dulu deh..

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Leave a comment

Your comment