Badut Kentut
(Verawati Cakrasenjaya)
Seorang badut duduk di sudut sebuah pesta sambil terkentut-kentut. Dia duduk menyendiri sambil menatap pesta di hadapannya dengan pandangan ingin, tapi tak seorangpun yang mau mengajak Badut untuk ikut menikmati pesta.Malahan banyak orang yang dengan sengaja menjauhi dan pura-pura tak melihat. Badut bingung mengapa orang-orang tidak mau mendekati dia.
“Apa kentut saya terlalu bau? Apa boleh buat. Saya kentut kan karena perut saya gendut. Habis, mana ada sih badut yang perutnya kempes? Tapi perut gendut itu ada resikonya, ya itu dia, tidak bisa berhenti kentut.” Wajah murung si Badut menjadi semakin murung menyadari kondisinya yang jauh dari sempurna.
“Tapi kan saya sudah berakting selucu mungkin untuk menghibur orang, masa orang hanya dinilai dari kentutnya saja?”
Maka duduklah dia di sudut sambil tetap terkentut-kentut. Anjing yang sedang tidur di bawah kursi tiba-tiba kabur sambil mendengking-dengking, dengan ekor diantara kedua kakinya. Badut melihat anjing itu dengan pedih.
“Bahkan anjingpun tidak mau dekat-dekat”
Badut melayangkan pandangannya ke pesta meriah yang ada di hadapannya. Pandangannya tiba-tiba terhenti. Badut melihat satu sosok yang sangat indah, dia sedang menari dengan anggunnya. Seluruh tubuhnya bergerak dengan begitu luwes seolah ia sudah menari sepanjang hidupnya. Badut tidak bisa melepaskan pandangannya, sosok itu terlalu indah untuk menjadi nyata. Badut mengucek matanya, betul, sosok itu masih ada, dia tidak sedang bermimpi.
“Alangkah bebas ia menari, mungkin dengan rupa secantik dia, salah menaripun orang masih mengaguminya. Tapi dia tidak melakukan kesalahan sedikitpun.” Pikir Badut dengan sedih sambil melihat pakaian lusuh berwarna mencolok yang dipakainya. Badut teringat mengapa ia menjadi seorang badut justru karena orang tertawa terbahak-bahak menertawakan gerakannya yang kikuk.
Di hati Badut timbul sepercik rasa iri yang bercampur dengan kekaguman yang anehnya, terasa seperti rasa cinta. Duuut… Badut mengekspresikan perasaan itu dengan lugas dan tidak basa-basi.
Plek..ada lalat mati jatuh di pangkuan Badut. Badut melihat bangkai lalat itu dengan sedih.
“Satu lagi korban kentutku”
Badut membandingkan nasibnya dengan si Cantik, tak terasa air matanya jatuh setetes demi setetes. Badut mendongak menatap cermin yang menempel di dinding. Make upnya yang luntur terkena air mata membuat wajahnya tampak lebih buruk dari sebelumnya, sudut mata dan sudut mulutnya yang menurun membuat wajahnya tampak semakin muram.
“Betapa malunya kalau si Cantik melihatku, mungkin dia akan kentut juga bila melihatku” pikir si Badut sambil kentut dua kali.
Si Cantik sudah selesai menari, banyak sekali yang merubungi ingin bercakap-cakap dengannya. Badut melihat dari jauh dengan pandangan ingin. Dia sudah agak lupa dengan kesedihannya tadi, sekarang dia hanya ingin berkenalan dengan si Cantik walaupun ia tahu itu adalah hal yang tidak mungkin. Yang bisa ia lakukan adalah menatap si Cantik sambil terus terkentut-kentut.
Si Cantik merasa begitu sepi di tengah keramaian yang mengelilinginya, apa sih yang mereka inginkan darinya? Tidak terasa adanya ketulusan di hati mereka, tawa mereka yang penuh kepura-puraan membuat telinganya congek. Pujian yang berbunga-bunga tidak menyentuh hatinya, karena Cantik melihat pandangan iri di mata mereka, Cantik merasa muak.
Gumaman orang-orang sekelilingnya berputar-putar di telinganya. Kepala Cantik berdenyut-denyut, ia membutuhkan udara segar. Cantik mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tiba-tiba dilihatnya sosok yang terlihat asing tapi rasanya tidak asing di hatinya. Rasa hangat menjalari hatinya, Cantik keheranan dengan efek sosok tersebut pada dirinya.
Si Cantik menoleh kearah Badut. Pertama ia memandang Badut dengan wajah keheranan tapi kemudian seulas senyum yang lembut mulai terukir di wajahnya. Badut langsung kentut dengan keras karena kaget dan tegang.
Baunya yang menguar kemana-mana membuat Badut malu. Si Cantik mengambil sepiring kue dan berjalan menghampiri si Badut. Si Badut duduk dengan gelisah, frekuensi kentutnya semakin sering. Ingin rasanya Badut memaki perutnya yang keterlaluan itu.
“Bisa tidak sih kau puasa kentut dulu ketika si Cantik berada di dekatku?”
Si Cantik semakin mendekat, dan ketika si Cantik memberikan piring kuenya, Badut kentut luar biasa keras. Si Cantik kaget, wajahnya sedikit mengerenyit ketika mencium bau kentut Badut. Badut memaki perutnya yang tidak tahu diri itu. Tapi tak lama si Cantik kembali tersenyum. Cantik mengulurkan tangannya pada Badut.
“Maukah kau berdansa denganku?”
Badut sangat terkejut.
“Ap..pa? Kau mau berdansa denganku?”
“Iya, kemarilah, ayo berikan tanganmu.”
Dengan ragu-ragu Badut menerima tangan Cantik.
Dengan bergandengan tangan mereka berjalan melintasi ruang pesta, semua mata memandang dengan takjub. Sungguh sebuah pemandangan yang unik melihat pasangan itu berdansa, yang satu bergerak dengan begitu indah, yang lain bergerak dengan kikuk dan beberapa kali nyaris terjatuh. Peserta pesta yang lain memberikan ruang yang luas bagi pasangan itu untuk berdansa dengan leluasa, sebagian kecil karena kebaikan hati mereka, tapi alasan sebenarnya adalah mereka tidak tahan bau kentut si Badut.
“Mengapa kau mengajakku berdansa?”
Cantik tersenyum.
“Aku hanya berdansa dengan orang yang aku sukai.”
“Kau suka kepadaku?”
“Iya”
“Mengapa? Aku adalah makhluk yang buruk rupa, belum lagi dengan kebiasaan kentutku yang memalukan.”
Cantik kembali tersenyum,” Apakah perlu alasan ketika seorang manusia menyukai manusia lainnya? Bukankah semua manusia mempunyai harga yang sama di mata Tuhan? Lalu mengapa kau merasa lebih rendah dari orang lain?”
Badut ingin menangis mendengarnya. Perlahan-lahan di wajahnya mulai terukir senyum bahagia. Senyum yang membuat wajah buruknya terlihat hampir-hampir tampan.
Duuut..ups, si Cantik pun kentut. Bau khasnya menguar kemana-mana. Semua penonton kaget dan malu. Badut dan Cantik saling berpandangan, lalu mereka tertawa terbahak-bahak menertawakan kentut-kentut mereka. Si Cantik dan Badut sudah melupakan pesta di sekeliling mereka. Di hati mereka sudah tercipta pesta yang lain, di mana mereka tidak lagi tersisih dan asing. Pesta di mana mereka merasa nyaman dengan apa adanya mereka dengan segala keindahan dan kekurangan masing-masing.
14 juli 2004












like this…
thx Agnes
g senang sekali..