Ga Penting

(Zheng Qiu Hui)

Di suatu hari yang tidak penting, diriku yang tidak berarti ini menuliskan suatu karangan yang tidak berarti dan tidak penting.
Yah, sebenarnya diriku yang tidak penting ini hanya ingin menceritakan hal-hal tidak penting yang tidak berarti bagiku. Seperti ketika pagi hari, sejenak setelah aku membuka mata terdengar suara burung yang tidak penting (karena aku tidak tahu dan tidak peduli nama,jenis,dan spesies burung tadi) berkicau dengan tidak berartinya. Juga ketika setelah rohku terkumpul sempurna, tiba-tiba terdengar teriakan yang tidak penting dari seorang tukang kue yang lewat di depan rumahku. Gilanya, teriakan tidak penting itu mendapat respon dari perutku yang terlalu duniawi. Terpaksa aku menanggapi teriakan tidak penting tadi dengan teriakanku yang bermakna (karena tukang kue itu langsung bereaksi dan berlari-lari kecil menghampiriku) Aku membeli beberapa kue yang tidak menarik untuk memuaskan napsu keduniawian perutku yang tidak bisa ditoleransi.


Siang pukul 11.00 ketika aku tidur-tidur ayam menikmati waktu-waktu yang tidak penting ini, bel rumahku berbunyi. Akh, hanya seorang yang tidak penting, apa maunya ya? Ternyata mengantarkan makanan sisa hajatan tetangga yang menurutku tidak penting untuk dipedulikan dan dihadiri. Setelah kubalas pemberiannya dengan ucapan “terima kasih”ku yang puitis dan bermakna, kuintip dus makanan tadi, huh, cuma berisi makanan yang tidak penting dan tidak menarik. Tapi..tapi mengapa hidungku kembang kempis, perutku..perutku yang kurang ajar kok berkaok-kaok lagi, tadi kan sudah kuberi makan, brengsek kau! Tanganku..tanganku kenapa tidak menurutiku, kok mengambil sendok, eeh mulutku..mulutku kenapa kau makan? Makanan yang tidak berarti yang tidak sesuai dengan derajat kita, ooh lidahku mengapa engkau ikut-ikutan mendecap-decap nikmat? Bah, tidak kompak kalian!
Walaupun harus kuakui setelah seluruh anggota badanku yang tidak penting ini terpuaskan hasrat duniawinya, mereka jadi lebih jinak dan lebih mau menuruti perintah-perintah pentingku, yaitu meneruskan tidur-tidur ayam untuk menikmati waktu berlalu dengan tidak berarti.
Mataku berkejap-kejap, terkejut terbangun tiba-tiba dari kenikmatan rohani bersemedi mendampingi waktu berkelana menyusuri ruang dan asa. Apa itu bunyi “ngaok-ngaok” yang sebegitu ributnya? Dengan marah aku memerintahkan kakiku yang tidak penting ini untuk berlari ke jendela. Huh, ternyata cuma seekor kucing buduk yang tidak berarti sedang berteriak-teriak dengan tidak pentingnya di depan jendelaku! Seketika mataku mulai mencari benda-benda yang tidak penting yang bisa kupakai untuk menyambit kucing sialan itu.
Ah, sandalku yang tidak mahal dan tidak penting ini cocok. Kusambit si kucing dengan sekuat tenaga, tidak kena, si kucing tidak kabur, hanya menoleh dengan pandangan mengejek yang membuat hatiku tambah panas, kuambil sandal satunya, kulempar dengan seluruh kekuatan jiwa dan raga. Si kucing kena, langsung terbirit-birit. Aku puas, walaupun kuperhatikan si sandal memantul mengenai kaca jendela tetangga lalu terdengar bunyi suara ribut kaca pecah. Ah, pikirku, toh cuma benda tidak penting dari seorang yang tidak berarti. Dengan santai aku menghampiri sofa untuk meneruskan semediku.
Tak lama terdengar gedoran keras di pintu, ketika kubuka, aku langsung disambut dengan semburan air liur dan kata-kata yang tidak penting dari tetanggaku yang kupecahkan kacanya. Semburan kata-kata tidak pentingnya membuat telingaku yang bermartabat ini sakit, terpaksa kurogoh dompetku untuk mengeluarkan uang pengganti kaca yang pecah. Ah, toh uangpun tidak berarti, kataku ketika menatap dompetku yang kosong melompong. Si tetangga melenggang puas sambil menghitung uang yang tadinya milikku.
Yah, kuteruskan saja semediku pikirku, sambil menghampiri sofa. Tiba-tiba mataku menangkap sepasang kecoak yang sedang berkasih-kasihan di atas sofaku. Dahsyat!! Begitu tidak bermoral! Lekas-lekas kuraba kakiku mencari sandal, tak ada, sudah kulempar ke kucing tadi. Sedikit rasa penyesalan menyusup karena sesuatu yang tidak penting bisa jadi penting juga untuk menghadapi dua jahanam ini.
Terpaksa surat kabar hari ini kugulung. Mulailah kejar-mengejar yang tidak seimbang antara aku dan dua kecoak yang dengan lihainya berlari berpencar ke arah yang berlawanan.
Tapi hatiku yang sudah jengkel dan panas tidak akan menyerah cuma karena hal kecil yang tidak berarti seperti itu. Maka tetap dengan semangat 45 kugeser seluruh interior rumah, sambil mataku mengawasi dengan awas.
Ah, ada kumis bergerak-gerak di dekat kursi. Kubalik kursi dengan cepat, sejenak si kecoak bertatap muka dengan eksekutornya, AKU! Tapi bukannya menyerah, dia malah terbang ke arahku, menyebabkan mulutku secara spontan mengeluarkan teriakan yang tidak penting dengan volume yang memalukan kerasnya. Hal itu menambah panas hatiku. Tuh, dia lari ke arah dapur. Oh kaki-kakiku, aku janji tidak akan menyebut kalian tidak penting lagi. Larilah kakiku sayang secepat-cepatnya. Untung kaki menurut. PLOK!!
Dapat! Satu mati, satu lagi akan menyusul. Singkat cerita sepasang suami istri kecoak tadi kudoakan sudah bertemu kembali di akhirat. Tinggal aku yang ngos-ngosan dan berkeringat.
Ada suatu kesadaran aneh menyusup dan mulai membesar seiring nafasku yang kian melambat dan teratur. Baru kusadari peranan seluruh anggota tubuhku dalam perburuan kecoak tadi, ternyata badanku yang kuanggap tidak berarti dan tidak penting ternyata penting sekali ketika melakukan apapun. Penting juga pikirku, menemukan sesuatu yang penting dalam ketidakpentingan.
Ketika berpikir-pikir tentang hal-hal yang penting dan tidak penting, ada suara keras dan panggilan intens untuk memperhatikan bagian perut. Perutku ternyata sudah menangis-nangis sejak tadi minta makan. Tak ada uang, kau puasa sajalah. Tangisnya semakin menjadi, kudiamkan, toh nanti juga capek sendiri, tak lama dia pun diam, aku lega. Tapi tangisnya berganti dengan rasa perih dan panas. Apa boleh buat, uangku yang kusangka tidak penting sudah kuberikan kepada tetanggaku yang tidak berarti itu. Ada sedikit rasa pahit penyesalan di mulutku.
Aku mencoba bersemedi di sofa untuk melupakan rasa sakit perutku. Tak bisa. Rasa sakit kian merajalela belum lagi rasa pahit penyesalan yang sekarang menguasai lidahku.
Gedoran pintu terdengar bertalu-talu di telingaku. Ketika kubuka, nyaris kututup kembali karena kulihat tetangga yang tadi menyemburkan air liurnya dengan kata-kata berdiri di situ, tapi dengan senyuman yang manis. Dengan kata-kata yang manis diungkapkan penyesalannya karena melabrakku, disertai dengan suguhan rantang sebagai penebus maafnya.
Rasa pahit di lidahku semakin menjadi karena segala ketidak berartian, segala ketidak pentingan mulai berbalik arah dengan mengerikan. Aku mulai menyukai tetanggaku yang mulai kuanggap penting keberadaannya saat ini, terutama karena rantang yang penuh berisi di tangannya.
Si tetangga penting pergi dengan tenang. Aku cepat-cepat membuka rantang penting ini dan mengintip isinya. Aneka makanan yang berbau enak di depan mataku membuat mataku buram berkaca-kaca. Ternyata makanan ini begitu penting bagiku.
Segera kuambil sendok dan kumakan semuanya dengan lahap. Setelah kenyang kulanjutkan semediku di sofa dengan berbagai kesadaran baru. Setelah lama kupikir-pikir, akhirnya akupun berlutut dan melipat tangan untuk berdoa pada Yang Kuasa, bersyukur atas anugerah pentingNya yang diberikan kepada diriku yang benar-benar tidak berarti ini.

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Comments (4)

San SanApril 29th, 2010 at 12:49 pm

Wuahahaha, kayanya favorit gua masih yang ini Mul! Enteng & lucu dapi DALUEEMMM… (sama satu lagi yang arisan burung-burung, hehehe)

VeryApril 29th, 2010 at 4:58 pm

nanti yang burung g masukin yah.thx yah,g jadi semangat nih :)

HennyMay 14th, 2010 at 9:31 pm

weleh…ini reunion the quartet yaa..

slamet bergabung deh…

salam

VeryMay 24th, 2010 at 11:54 pm

Lho,ketauan yah hehehe.

Makasih ya..

Leave a comment

Your comment