HADIRMU..

(Verawati Cakrasenjaya)

Pertama kali aku menyadari kehadirannya pada saat dia berlari menghindari kejaran pemilik rumah no 1, dia terengah-engah dan mencari tempat perlindungan dengan panik.

Pada saat itulah, baru kusadari pesona kecantikan fisiknya yang begitu luar biasa. Mata hijau kekuningan yang bercahaya, muka abu-abunya yang dempak, ekor buntet, warna bulunya yang bernuansa abu kecoklatan, belum lagi dengan kaki rampingnya, semuanya membuat aku terpesona.
Mulai saat itu kemanapun dia pergi, selalu kuawasi dari jauh, aku tak yakin dia akan menyukaiku. Tapi semakin lama kuawasi semakin kuat cengkraman pesonanya atasku. Lenggoknya, caranya mengendap-ngendap ketika akan mengorek tempat sampah rumah no 1, atau ketika lari terbirit-birit dikejar anjing buas rumah no 1, semua, semuanya begitu mempesonakanku seolah tak ada lagi mahluk sepertinya.


Setelah lama kutimbang-timbang akhirnya kuberanikan diri untuk mulai menyapa. Kudekati dia dengan perlahan. Dia menatapku dengan tajam. Oh, tenanglah, aku tak akan menyakitimu, aku mencintaimu. Tubuhnya mulai menegang waspada. Aku tidak ingin kehilangan dirinya, maka kukeluarkan jurus andalanku, rayuan maut, paling maut seantero blok ancol timur “Meooo..Meoo..” Dia terkesiap. Matanya membulat menatapku. Kudekati perlahan sambil terus kurayu “Meoo..Meoo..”
Jarak diantara kami semakin dekat, walaupun bila kudekati lebih dekat dia masih selalu akan mundur. Tapi tak mengapa, cinta itu perlu kesabaran dan perjuangan yang tiada henti, bukankah begitu? Maka kukuatkan hatiku dan tekadku untuk tetap mengejar dan merayunya, dengan kekuatan rayuan super mautku.
Sudah sehari semalam kurayu, si dia belum luluh juga hatinya, padahal tidak sedikit pengorbananku. Aku rela berhujan-hujan di tengah cuaca musim hujan yang dingin demi dekat dengannya. Belum lagi para penghuni rumah yang tidak bisa mengerti rasa seninya cinta, dengan seenaknya suka menyiram air dan melemparkan barang-barang ketika aku asik berpuisi merayu si dia. Ah, tapi apalah artinya bila kudapat dia dalam rengkuhanku? Semua akan menjadi impas, tak apa..
Tengah hari, cuaca agak berhujan dan dingin. Kurayu lagi dengan gigih, dia melengos masuk ke dalam halaman rumah no 1 dan duduk dengan anggunnya di rerumputan. Duh, rasanya begitu ingin kupeluk, kudekati terus, dia tidak lagi menghindariku.
Ah, mungkinkah akhir perjuanganku sudah tiba? Kudekati dengan agresif, dia tidak melawan. Tapi tahu-tahu, BRET! Cakar kecilnya menabokku dengan keras, seolah belum cukup dia membentakku juga. Oh, apakah yang kualami ini nyata? Ku mengeong dengan pilu, kudekati dia untuk meminta penjelasan. Bret..bret..bret..Fuchaa.! Dia menabokku lagi!
Mengapa? Mengapa? Apa yang tidak ia sukai dari diriku? Bukankah dagu tebalku ini terlihat begitu macho? Belum lagi dengan kuping sobek-sobekku yang menandakan betapa jantannya aku, belum lagi dengan mata jerengku yang membuat banyak gadis-gadis keblinger, apalagi dengan rayuan mautku yang tidak pernah gagal.
Apa yang terjadi dengan si cantik ini? Mengapa aku ditabok?
Aku begitu shock dengan penolakannya yang tidak disangka-sangka sehingga kewaspadaanku menurun. Aku tidak sadar bahwa pintu tempat anjing buas itu telah terbuka.
Aku baru tersadar ketika muka penuh gigi dan liur itu telah berada tepat di depanku.
Sontak seluruh bulu di badanku meremang, aku berlari sekuatnya menghindari kejaran anjing buas itu, berlari dan terus berlari, melintasi semua jalan, secara vertikal maupun horizontal. Untung sepertinya anjing itu sudah terlampau gemuk sehingga tidak bisa mengimbangi kecepatan lariku. Aku merasa di atas angin.
Hap! Tahu-tahu giginya sudah menancap di kaki belakangku, aku takut sekali, kutingkatkan kecepatan lariku, sambil membuang semua beban yang ada di dalam perut dan kemihku. Akhirnya aku lolos keluar pagar. Huh! Anjing sialan!
Aku mengatur napas dengan susah payah dan melihat sekeliling dengan waspada, jangan sampai kejadian ini ada yang melihat. Memalukan sekali sebagai pemimpin yang tertampan di gang 6 terlihat dalam posisi yang demikian.
Fuh.. sekitarku tidak ada kucing, tenang, tenang. Tiba-tiba kudengar bunyi lembut di atas pagar rumah no 8. Astagaa..semua kucing gang 6 sedang duduk-duduk di sana! Padahal pagar tersebut tepat berhadapan dengan rumah no 1. Mana ada si cantik lagi diantaranya!
Diantara maluku, lebih baik aku mencuci muka dulu, kemudian dengan langkah yang digagah-gagahkan ( walaupun sekarang sedikit timpang karena digigit anjing sialan itu) aku memutuskan untuk pindah ke gang lain. Petualanganku sebagai kucing macho belumlah selesai..

NB:
Tepuk tangan untuk para aktor yang terlibat dalam naskah ini, para pemerannya adalah kucing-kucing liar sekitar rumah dan anjing peliharaanku.
Si Cantik = si abu (karena warna bulunya abu-abu polos)
Kucing macho = si brengsek (karena selalu kencing di teras dan berak di halaman, juga suka berkelahi di atas plafon membuat orang tidak bisa tidur)
Anjing galak = Pom Pom (hasil kawinan anjing kampung dan herder yang galaknya bukan main)
Alkisah Pom Pom dan si Brengsek memang musuh bebuyutan. Gara-garanya Pom Pom yang dikurung di garasi, cuma bisa melihat ke luar lewat lubang di bawah pintu yang ukurannya semoncong Pom Pom. Si Brengsek tahu bahwa Pom Pom tidak bisa keluar, makanya dia sengaja lewat tepat di hadapan Pom Pom lalu mengencingi dinding dekat pintu garasi. Siapa yang tidak panas coba. Jadilah pada suatu hari ketika suami saya lupa mengunci pintu garasi, Pom Pom berhasil keluar dan mencaplok si Brengsek yang kelihatanya akan berak. Kami panik, suami saya mengambil sapu untuk digetokkan ke kepala Pom Pom agar dia kaget dan melepas si Brengsek. Si Brengsek memang lepas, kami buru-buru menarik tali leher Pom Pom dengan kuat, si Brengsek kabur dengan menyeret pantatnya ke tanah yang mengakibatkan ada jejak kotoran yang berbentuk zig zag. Yah begitulah..
14 April 2008

Tertarik dengan yang ini?

  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?
  • Taman Sore
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Sebuah Rumah
  • Badut Kentut
  • SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
  • DASI
  • CINTAKU BERAWAL DAN BERAKHIR DI UJUNG KETAPEL

Comments (2)

G. Lini HanafiahMay 28th, 2010 at 11:30 pm

seru, Ver!
bagus

VeryJune 2nd, 2010 at 11:56 pm

Thx lini :)
yah ini cerpen kenang2an buat pom2

Leave a comment

Your comment