Mieneviere (part 1)

RAHASIA MIENEVIERE

Banyak orang bilang bahwa desaku yang dikelilingi oleh rawa terasa begitu suram dan seram. Tapi bagiku rawa yang penuh dengan segala bahaya merupakan tempat bertualang yang tidak ada bandingannya. Bayangkan saja, tepat di tengah rawa yang diselimuti kabut tebal itu terdapat danau kecil yang airnya hijau berkilauan, pepohonan yang besar dan rimbun mengelilingi danau dengan rapat. Kilau air membentuk pola-pola di sulur-sulur pohon yang melandai bagaikan tirai membuat danau tampak sangat angker dan penuh misteri. Pada hari yang cerah pun sinar matahari hanya mampu menyelinap sedikit saja melalui celah antara dedaunan.

Airnya yang berwarna kehijauan membuat kita tidak dapat melihat ke dasar danau, sehingga kita tidak tahu apa saja yang ada di dalam danau. Sering aku membayangkan mahluk-mahluk seram yang mungkin bermukim di sana. Dan bila kita menatap air danau berlama-lama, badan seolah-olah tertarik oleh suatu kekuatan yang tak nampak untuk masuk ke dalam danau. Bukankah ini adalah sesuatu yang hebat?

Banyak cerita tentang orang-orang yang pergi ke rawa dan tidak pernah kembali lagi. Entah apa yang terjadi dengan mereka. Apakah mereka pergi ke suatu tempat rahasia? Atau mati tenggelam di danau? Bila mati tenggelam harusnya tubuhnya akan mengambang di air, tetapi seringkali tubuhnya seperti hilang begitu saja. Hanya terdapat beberapa peninggalan orang itu yang tertinggal di daerah rawa, seperti sebelah sepatu atau jaket. Mungkinkah mereka dimakan oleh mahluk seram penghuni danau?

Begitu angkernya danau tersebut sehingga Robert, kakakku yang pandai bercerita, mengarang sebuah cerita tentang misteri danau. Menurut cerita Robert di tengah danau tinggal seorang peri rawa yang bernama Mieneviere. Dia menjaga harta karun yang sangat berharga, barangsiapa yang bisa mendapatkan harta tersebut akan mendapatkan kebahagiaan abadi. Tapi tak ada seorang pun yang tahu seperti apa bentuk harta karun tersebut karena tidak ada seorangpun yang berhasil. Padahal banyak yang sudah mencoba, tapi semuanya tidak ada yang kembali dalam keadaan hidup!

Cerita Robert begitu hidup, sehingga kami, aku, Peter, dan Clemen sungguh-sungguh percaya. Kami jadi lebih sering bermain di tepi danau sambil berharap dapat melihat penampakan peri Mieneviere yang konon rupanya sangat menyeramkan.

Entah siapa yang melaporkan sehingga orang tua kami mengetahui tempat bermain rahasia kami yang berbahaya. Ayah sangat marah, ia berteriak memarahi kami sampai wajahnya merah padam. Ibu tidak mengatakan apa-apa, tapi gerakan jari-jarinya yang sedang merajut semakin lama semakin cepat seiring dengan bertambahnya kemarahan ayah. Matanya sesekali melirik ke arah kami dengan pandangan khawatir. Ibu takut ayah memukul kami lagi, seperti yang suka ia lakukan pada saat pulang dalam keadaan mabuk.

Ayah mendesak kami untuk mengatakan apa yang sebetulnya kami lakukan di sana. Aku melirik Robert yang menggigit bibirnya dengan tegang. Aku merasakan adanya kesepakatan diantara kami untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku melirik Peter dan Clemen, Clemen tampak hampir menangis. Kami menatap Clemen dengan tegang, sebagai anak bungsu yang baru berusia 5 tahun, Clemen memang kurang dapat dipercaya untuk memegang rahasia besar.
Benar saja, tak lama Clemen menangis dan menceritakan semuanya. Ayah marah besar. Ditariknya kerah baju Robert dan memaki-makinya sebagai anak tolol yang bukannya menjaga adik-adiknya tapi malah menjerumuskannya kedalam bahaya. Aku membela Robert dengan mengatakan kalau Mieneviere memang betul-betul ada. Ayah menertawakanku dan mengatakan betapa hebatnya khayalan anak usia 8 tahun.

Aku merasakan amarah yang besar bergolak dalam dadaku. Rasa panas mulai menjalari wajahku, sekuat tenaga kutahan air mata yang hampir jatuh, kukepal tangan kuat-kuat sampai jariku terasa sakit. Betapa inginnya aku membalas perlakuan ayah yang meremehkanku.

Tiba-tiba timbul rencana aneh, aku, anak yang baru berusia 8 tahun ini, akan membuktikan pada semua orang bahwa Mieneviere memang ada! Aku tidak akan memberitahu Peter dan Clemen, mereka masih terlalu kecil untuk bisa dipercaya.

Aku menceritakan hal ini kepada Robert. Robert menyetujui usulanku. Dan dengan semangat ia mulai merencanakan prosesi pemanggilan Mieneviere.

Aku dan Robert menciptakan ritual-ritual yang kami anggap dapat memanggil Mieneviere dari persembunyiannya. Kami mulai menari dengan lambat dan menyanyi dengan alunan irama yang cocok dengan keseraman danau. Setelah melakukan ritual kami akan menunggu di tepi danau, berharap Mieneviere segera muncul. Setiap hari, kami dengan setia terus melakukan ritual pemanggilan, tapi Mieneviere tak pernah muncul.

Setelah beberapa minggu tanpa hasil, aku mulai merasa kesal. Kupandangi air danau yang berkilau kehijauan itu sambil setengah melamun. Lama kelamaan aku seperti melihat bayangan peri hijau kecil yang sedang menari, dia menari di dalam air dengan sangat indah seolah mengundangku untuk mampir ke tempatnya. Semakin kupandangi, badanku semakin terasa lemas dan ada keinginan kuat di dalam diri untuk terjun ke dalam danau. Tiba-tiba seperti ada suara yang menyuruhku untuk meminum air danau sebelum menyelam ke dalam.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk ke dalam danau. Aku berjalan semakin jauh ke tengah danau dan mulai meminum airnya. Airnya terasa asam dan bau. Aku memaksakan diri untuk minum sebanyak mungkin, walaupum perutku mulai terasa sakit dan mual. Kepalaku terasa sangat pening, pandanganku mulai berputar-putar. Tiba-tiba kulihat samar-samar ada bayangan yang mulai mendekatiku, sosok yang berenang dengan indahnya, Mieneviere!
Seiring dengan semakin hilangnya kesadaranku, sosok Mieneviere malah semakin jelas. Rasa bahagia mulai menyusup ke dalam hatiku.

Sayup-sayup aku mendengar suara Robert memanggilku, “Thomas! Thomas!”
Aaahh..andai Robert merasakan apa yang aku rasakan..

Tertarik dengan yang ini?

  • MIENEVIERE part 3 (tamat)
  • MIENEVIERE part 2
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya #8_Piring Makan Jingga
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#7)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#6)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#5)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#4)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#3)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#2)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya

Leave a comment

Your comment