MIENEVIERE part 2
(Zheng Qiu Hui)
Aku terbangun di atas tempat tidur, dikelilingi oleh keluargaku. Ibu tampak seperti habis menangis, ayah terlihat begitu pucat, Clemen masih terus menangis. Ada apa sebenarnya?
Aku mencoba untuk bangkit, aneh, aku bahkan tidak mampu mengangkat tanganku. Badan terasa amat berat dan kepalaku pening sekali. Aku mengedarkan pandangan ke sekitarku, apa yang telah terjadi?
“Oh, kau sudah sadar, nak.” sambut ibu dengan gembira.
“ Kami pikir kau tidak akan bangun lagi selamanya, apa yang kau lakukan di danau itu, nak?” Ayah terlihat sangat khawatir.
Aku tidak mau menceritakan rahasia ini, masih terlalu dini, aku belum menemukan cukup bukti. Mataku mencari-cari Robert, nah, itu dia duduk di sudut dengan wajah muram. Aku tidak sabar ingin menceritakan pengalamanku. Tapi harus menunggu sampai orang tua kami meninggalkan kami sendiri, kali ini aku mau berbagi rahasia dengan Peter dan Clemen.
Akhirnya orang tuaku meninggalkan aku agar aku bisa beristirahat. Tak lama Robert, Peter, dan Clemen berebut mengelilingi tempat tidurku. Robert menceritakan apa yang terjadi.
Setelah meminum air danau ternyata aku pingsan dan langsung tenggelam seperti batu. Robert berteriak dengan panik sambil memanggil-manggil namaku. Untung teriakannnya terdengar oleh warga desa yang kebetulan lewat, mereka segera menolongku keluar dari danau. Melihat wajahku yang pucat dan tidak bernafas lagi, mereka cepat-cepat memberikan nafas buatan dan memompa air danau keluar dari perutku. Menurut dokter yang memeriksaku, aku pingsan akibat keracunan air danau dan hampir mati karena tenggelam.
Sekarang aku baru mengerti mengapa badanku terasa seperti habis ditabrak truk! Ternyata aku sempat hampir mati dan tidak sadarkan diri selama 2 hari. Aku bergidik memikirkannya. Tapi anehnya bukan karena takut, tapi karena sensasi bahwa aku sudah mengalami pengalaman yang menakutkan itu dan selamat!
Sekarang giliranku untuk bercerita, aku menceritakan semua yang aku lihat. Aku melihat seorang wanita yang berenang dengan anggun ke arahku, tubuhnya ditutupi semacam sisik yang berwarna kehijauan, pakaiannya melayang dengan ringan seperti asap bergerak mengikuti gerakan badannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Aku juga menceritakan tentang perintah yang aku dengar sebelum terjun ke dalam danau. Ceritaku ini memperkuat rasa percaya kami bahwa Mieneviere memang ada! Dan sepertinya tinggal selangkah lagi menuju harta karun. Hal ini membuat hati kami terbakar semangat yang menggebu-gebu untuk meraih impian.
Sayang, karena kondisiku yang masih lemah, maka rencana untuk berburu harta karun Mieneviere terpaksa ditunda sampai aku pulih. Setiap hari kami mematangkan rencana kami untuk menuju harta karun Mieneviere.
Peter terlihat amat bersemangat dengan rencana kami. Dia selalu bertanya tentang rupa Mieneviere yang kulihat, apakah rupanya sebengis cerita Robert? Atau seperti peri-peri yang ada di dalam cerita dongeng? Aku menggambarkan rupa Mieneviere dengan detil seraya menambahkan bumbu-bumbu karanganku sehingga peri Mieneviere menjadi begitu menakjubkan, amat seram tapi sekaligus juga sangat indah. Mata Peter yang berumur 6 tahun itu tampak berbinar-binar. Hatiku menjadi senang karena bisa menghibur Peter yang biasanya tampak muram dan sedih.
Keesokan harinya Peter menghilang. Semua tempat sudah dijelajahi, tapi Peter tetap tidak dapat ditemukan. Ayah ikut mencari bersama beberapa warga desa, mereka mencari ke sekitar rawa termasuk danau tapi Peter tidak tampak dimanapun. Ibu menangis terus menerus. Kami merasa ketakutan, jangan-jangan Mieneviere merasa marah tempat tinggalnya diganggu dan akhirnya mengambil Peter.












