MIENEVIERE part 3 (tamat)

(Zheng Qiu Hui)

Peter keluar dari tempat persembunyiannya, akhirnya dia bisa lolos dari orang-orang yang sedang mencarinya. Ini adalah perjalanan rahasia, tidak ada yang boleh tahu termasuk kakak-kakaknya. Peter ingin bertemu dengan Mieneviere.

Peter berjalan perlahan-lahan menuju ke tengah danau, setelah air danau mencapai lehernya, Peter mulai meminum air danau yang rasanya sangat tidak enak itu sebanyak-banyaknya. Perutnya mulai terasa sakit dan mual, kepalanya terasa pening. Peter merasa sangat tersiksa tapi keinginannya untuk bertemu dengan Mieneviere begitu kuat sehingga memaksanya untuk terus meminum air danau.

Peter merasa perjalanannya untuk bertemu dengan Mieneviere sudah dimulai. Pandangannya mulai berputar-putar. Ajaib! Ia dapat melihat Mieneviere! Peri hijau itu berenang meliuk-liuk dengan anggun dan indah.

Rupanya persis seperti apa yang sudah diceritakan oleh Robert dan Thomas. Memang terlihat begitu menakjubkan, rasa bahagia menyeruak di dalam hati. Peter merasa telah mengalahkan kakak-kakaknya dan ia akan mendahului kakak-kakaknya ke tempat Mieneviere.

Peter melihat Mieneviere berenang semakin dekat menuju ke arahnya. Mieneviere mengulurkan tangannya yang seperti cakar berselaput pada Peter. Peter dapat melihat wajahnya dengan jelas, wajah cantik yang ditutupi sisik kehijauan, matanya kuningnya yang sangat indah menatap Peter dengan pandangan tajam yang dapat menggigilkan tulang. Telinganya mencuat dan berduri seperti ekor ikan yang tipis, rambutnya yang hijau melambai seperti rumput air yang tumbuh di rawa. Semuanya memang terasa menyeramkan tapi juga sangat indah seperti kata Thomas.

Peter menyambut tangan Mieneviere, ia telah siap untuk berangkat ke istana Mieneviere. Peter berenang bergandengan tangan dengan Mieneviere, hatinya sangat bahagia..

Kepala Peter semakin lama semakin menghilang dari permukaan danau. Badannya tenggelam semakin dalam, tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat takut. Wajahnya sedikit tersenyum dengan mata terbuka lebar, namun tatapannya kosong menerawang. Badan Peter melayang-layang di dalam air menuju dasar danau.

Peter tetap belum ditemukan sampai malam. Ibu menangis terus menerus, Ayah terlihat sangat cemas dan melampiaskannya dengan marah-marah. Robert, aku , dan Clemen meringkuk sambil berpelukan di sudut ruangan. Kami takut sekali, kami tidak berani bilang bahwa itu salah kami, sehingga Mieneviere marah dan mengambil Peter sebagai tumbalnya. Kami merasa sangat bersalah dan juga amat takut, jangan-jangan Mieneviere juga akan mengambil kami malam ini.

Seminggu kemudian Peter baru ditemukan. Mayat Peter mengambang di air dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Seluruh tubuhnya telah menggembung dan berwarna keabu-abuan, perutnya membuncit dengan mengerikan. Ibu menangis meraung-raung, Ayah juga. Kami juga menangis melihat kondisi Peter. Kami menangis bukan hanya karena sedih kehilangan Peter tapi juga karena takut sekali melihat rupa Peter sekarang. Sama sekali lain dengan Peter yang hidup dalam ingatan kami. Wajah bengkak yang tidak lagi mirip Peter, matanya yang buram keputihan menatap kami seolah–olah menyalahkan kami atas kematiannya.

Dan kami semakin percaya ternyata Mieneviere memang ada dan ia telah membunuh Peter. Seluruh harapan yang indah tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk. Tubuhku menggigil..

Sejak saat itu kami tidak pernah lagi menginjakkan kaki kami ke daerah rawa, rasa takut kami telah mengalahkan keinginan untuk bertualang.

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak Peter tenggelam tapi rasa takut akan Mieneviere tetap ada dan kami percaya bahwa Mieneviere telah membunuh Peter.

Tapi terkadang, terkadang sekali, aku berpikir, apakah betul Mieneviere itu betul-betul ada? Bukankah semua itu hanyalah karangan Robert saja? Tapi kalau begitu siapa yang membunuh Peter? Aku menggidik memikirkan bahwa mungkin ceritaku dan Robertlah yang membunuh Peter. Tidak, tidak, tidak mungkin, sudah pasti Mieneviere yang membunuh Peter. Ya..ya..Mieneviere memang betul-betul ada, bukankah aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri? Aku yakin itu bukan sekedar halusinasi ketika aku sekarat. Bukan, bukan halusinasi, aku yakin itu..

Juni 2004

Tertarik dengan yang ini?

Comments (1)

TidungNovember 20th, 2012 at 5:21 am

Kasihan sekali si Peter tapi sekarang udah ganti nama jadi Noah ya xixixi anyway tulisannya bagus sekali kita sampe terperangah membacanya.

Leave a comment

Your comment


three − 1 =