(Oleh : Femikhirana)
Penulis, apa yang membuat seseorang dapat menganggap dirinya penulis?
Pertanyaan ini mungkin harus ditelaah oleh mereka yang ‘ngaku’ suka menulis, hobi menulis.
Saya sendiri terus terang tidak tahu apakah ada ukuran empiris tentang seseorang bila ingin disebut penulis. Beberapa orang yang bertanya kepada saya, apakah saya penulis, sering saya jawab dengan,
“Penulis di blog, karena media saya memang sekarang baru blog.”
Read the rest of this entry »
Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu
G. Lini Hanafiah
Martina Felesia
Henny Listyowati
Ratna Ariani
Dede AM Setiadi
Ika DS
Martha Liumei
Femikhirana
Levina Widyarsa
Ode (Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Fonny Jodikin
Angel Li
Shandra Syailendra
Imelda Wijaya
Puji Lestari
Giacinta Hanna
Yenny Auw
ISBN: 978-979-18815-3-1
Penerbit: Via Lattea Foundation
83 hal
15×21cm
Sinopsis
Ayu dan Cantik adalah saudara kembar. Ayu adalah gadis pemalu, feminin dan pintar. Cantik adalah gadis ekspresif, tomboy dan mandiri.
Di antara mereka ada Bagus, [...]
(Yunie Batu)
Awalnya gue sih biasa aja. Jalan sendirian dengan tas di pinggang. Ngelamun gak jelas, berharap tiba-tiba sampe rumah. Terus bisa tidur dengan nyeyak. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, saat gue pengen nyebrang jalan. Di lampu merah, ada abang gerobak dengan kecepatan tinggi, yang takut kalau lampu merah akan berubah jadi ijo. Seolah gak ada diriku yang cantik dan super besar ini. Si abang malah menabrakkan gerobaknya ke badanku yang super ini.
Dalam hitungan detik gue langsung jatuh. Tepat di atas kubangan air yang super kotor pula. “ maaf neng…!! Abang buru-buru..” itu kata si abang yang membawa gerobak. Gerobak yang berisi setumpukan sampah bekas. sibuk apanya..?? gaya beud dah.!! Emang abang mau datengin sidang DPR apa..?? Cuma mau nimbang sampah aja pake bilang buru-buru. Read the rest of this entry »
March 20th,2010
Yunie Batue | tags:
Curhat |
No Comments
(Irene Wibowo)
Baiklah, sekarang kau harus membayar harga!
Bagaimana aku bisa membayarnya?
Kau tidak tahu bagaimana membayarnya?
Ya, aku tidak tahu. Maafkan aku.
Kau sudah meminta dan sekarang kau tidak bisa membayar?
Maaf. Tapi aku butuh sekali ini semua.
Tapi tidak ada yang gratis didunia ini!
Aku harus bagaimana? Read the rest of this entry »
(Irene Wibowo)
Tidak lengkap rasanya,
ketika harus makan tanpa sendok dan garpu,
karena pasti akan membuat makanan di atas piring tidak terambil semuanya.
Sama tidak lengkapnya, ketika sarapan tanpa susu dan sereal,
karena akan membuat perut terasa sedikit kosong.
Apalagi, ketika menyajikan makanan tanpa sayur dan daging.
seperti ada yang kurang untuk mengucap terima kasih.
Sama seperti sebuah keluarga,
tidak lengkap rasanya, ketika tidak ada Ayah dan Ibu dalam satu kamar.
Seperti sendok kehilangan garpunya.
Begitu pula, bila tidak ada senyum dan air mata,
seperti susu tanpa sereal.
Semua inginkan lengkap,
karena akan membuatku kehilangan keseimbangan
untuk tetap berdiri.
bisakah selalu lengkap?
March 20th,2010
Irene Wibowo | tags:
Puisi |
No Comments
(Paulus Bing)
Bagaimana mungkin kita tahu bahwa Dia dapat menyelesaikan masalah…
bila kita tak pernah mendapat kesulitan dalam hidup,
Bagaimana mungkin kita tahu bahwa Dia sanggup menolong….
bila kita merasa masih sanggup berpegang pada kekuatan sendiri,
Bagaimana mungkin kita tahu bahwa Dia berkuasa…..
bila kita tak pernah merasa tertindas dan terpuruk dalam keputus asaan,
Bagaimana mungkin kita tahu bahwa Dia dapat mengasihi…..
bila hati kita selalu tertutup oleh kemarahan dan kebencian,
Bagaimana mungkin kita tahu bahwa Dia sanggup mengubah hidup kita…..
bila kita tak pernah sungguh-sungguh menyerahkan hati,
Bagaimana mungkin….yach bagaimana mungkin…. Read the rest of this entry »
Sekar (16) terlihat sibuk menggulung “stagen” hitam di depannya tampak kain batik panjang bermotif “truntum” dan selendang terlipat rapi. “Oke sampai ketemu minggu depan ya, kita latihan “blocking” tempat,” terdengar suara bu Intam Suwandi (55) menyapa dua pasang anak muda yang sedang melakukan kegiatan yang sama.
Pemandangan demikian dapat dijumpai di Padepokan Paguyuban Mataram di daerah [...]
(Imelda Wijaya)

Benarkah itu cinta?
Di saat ...
Pekat kepalaku berisi tentangmu
Dirimu ada di tiap tarikan nafasku
Hatiku berubah menjadi ribuan kupu-kupu kecil waktu tak sengaja tersentuh olehmu
Banyak lonceng berdenting waktu kau menatapmu
Aliran darahku serasa berhenti hanya dengan mendengar suaramu
Benarkah itu rindu?
Read the rest of this entry »
(Malinda Shan Yuan)
Dikau yang sekarang
Masih samakah dengan dikau yang dulu??
Senyummu
Kehangatanmu
Keceriaanmu
Canda tawamu
Masih tertinggal di sanakah??
Atau sudah dibawa pergi??
Sang Waktu atau Sang Angin??
Read the rest of this entry »
(Irene Wibowo)
Seruku padaNya, ditengah sebuah keheningan.
“ Inilah aku. Bapa ini adalah aku. “
Dalam gelapanya waktu, Kau kian berkata
“ Tenanglah anakKU. Kau tak perlu takut lagi. “
Tangisku,
“ Bapa aku harus berbuat apa. Dan mengapa aku. “
Read the rest of this entry »
(Irene Wibowo)
Menyelesaikan yang telah dikerjakan.
Berjalan selalu melangkah melalui waktu.
Tak terhempaskan dari kehidupan sekilas cerita
Yang seharusnya tertulis ,tlah terangkaikan.
Bukan untuk mencari ,namun untuk berjalan denganNya.
Harapan dalam sekian waktu,
Read the rest of this entry »
(Veronica Setiawati)
Hari minggu pagi , tgl 30 November 2008 janjian dengan siti di shelter busway jembatan baru cengkareng. Lama juga menunggu akhirnya dia muncul berlari-lari menaiki jembatan menuju depan loket dimana saya sudah menunggu. Tujuan kami adalah pasar pagi mangga dua yakni mencari beberapa jenis souvernir untuk pernikahan siti. 
Dari cengkareng kami berdua naik bustransjakarta dengan ongkosnya RP 3.500 per orang. Jalur yang dilewati adalah spanjang jalan daan mogot, grogol kemudian melewati depan universitas trisakti lewat tomang ( maap kalau tidak salah sih, waktu itu masih lewat jalur tersebut ) dan turun di shelter harmoni untuk berganti bus menuju Jakarta kota tidak usah bayar lagi. Tinggal mengikuti jalur busway melewati sawah besar, glodok , LTC dan berakhir di kota. Nah dari kota lanjut lagi perjalanan dengan naik mikrolet menuju pasar pagi.
(Daesy Christina)
Semua manusia di dunia ini pasti pernah mengalami yang namanya kehilangan. Mau itu kehilangan seseorang, ataupun kehilangan barang.Kehilangan malu, ataupun kehilangan harga diri. Apapun itu macamnya, pasti mereka pernah merasakannya.Empat belas tahun lalu aku merasakan kehilangan orang yang aku sayangi, dan kesayanganku sekaligus.Dan di sepanjang kehidupanku, akupun sering merasakan kehilangan[...]
(Vinna Kurniawati)
… Episode sebelumnya …
Masalah yang harus dihadapi Jenny semakin rumit saja. Selain harus menghadapi Lars yang sedang dekat dengan seorang wanita ( yang membuat Jenny cemburu ), juga harus menghadapi Kevin yang berusaha membuat Jenny bisa jatuh cinta kepadanya ( seolah itu bisa terjadi saja ) dan kini dia juga harus menghadapi ibunya yang tiba-tiba menelepon untuk meminta Jenny tinggal bersama …
Sore itu Kevin benar-benar datang menjemput Jenny di bengkel. Semua anak-anak di bengkel begitu tercengang melihat Kevin yang menjemput Jenny dan menyapanya dengan mesra. Mungkin mereka semua sedang berpikir bagaimana caranya Jenny bisa mendapatkan seorang pangeran yang mau berpacaran dengan nenek sihir seperti Jenny_Jenny memang terkenal cukup galak sebagai atasan mereka. Tapi Jenny tidak perduli walaupun dia dianggap sebagai nenek sihir, yang penting mereka sudah melihat Kevin dan Kevin sendiri sudah berakting sangat baik sebagai pacarnya dengan menyapanya dengan mesra seperti tadi. Paling tidak mereka bisa menyampaikan dari mulut ke mulut tentang pacarnya ini sehingga sampai ke telinga Lars dengan cukup bagus.
Read the rest of this entry »
(Irene Wibowo)
Kenapa aku butuh ini?
Ini maksudmu?
Ya, ini semua. Tabung hati, pedang kasih dan apa ini?
Isilah tabung hati itu dengan banyak senyummu.
Maksudnya?
Setiap pagi hari, katakanlah Semangat pada dirimu, dan tersenyumlah.
Read the rest of this entry »
(Eko Supriyono)
“pokoknya kamu harus segera punya istri,apa kata bapakmu di alam sana,emak malu sama teman-temanmu,mereka sudah gendong anak,apa kamu mau jadi bujang lapuk,hidup tanpa anak istri,haa..tidak liat emak sudah tua,sebelum adikmu dilamar kamu harus sudah melamar,harta bisa dicari dan takan pernah dibawa mati..menikah adalah ibadah”.agus hanya bisa terdiam mendengar omelan emak dari telfon.”sekarang emak cuma mau kamu bahagia disamping anak istrimu,dari sisi dunia kamu sudah membahagiakan emak dan itu cukup nak,jangan telfon emak sebelum ada kabar kamu punya pasangan”.setelah salam emak menutup telfon,”mungkin benar apa yang dikatakan emak,tapi apakah masih ada wanita yang mau dengan pria sepertiku”.2 tahun agus menutup mata untuk wanita,bukan berarti dia membenci wanita bukan pula seorang berkelainan.Sakit hati yang masih menginfeksi,membuatnya enggan bercinta lagi,tapi kini mau tak mau hal itu harus ditinggalkannya mencoba lagi mencari cinta yang tulus,dalam waktu 30 hari mungkinkah.”met,emak gue nyuruh segera merried”.agus kepada memet di sela-sela istirahat kerja.”oaaaalaaaa aguuus aguuus,meried tinggal merried apa susahnya siiich”.jawab memet.”tapi masalahnya gue belum punya calon,waktu gue sebelum adik gue dilamar dan itu 30 hariii”.sambil memegang kepala agus berbicara,”hahhahahahahaaa..kayak film aja lo,ya kan temen cewek lo banyak,cewek lajang sekantor kita ada 25 belum yang di pantry,cewek lajang disekitar kontrakan bersliweran,yang sering keluar masuk siapa tuchh …eee si rina yyy si rina uchchhhg aduhai semolhai..hahaha”.”gila lu met gue cari cewek baik-baik”.”sirina kurang baik apaaa,tiap malam ngajakin ajep ajep ajep haaaha”.”yach lu malah ngledek itu siich mau eluuu…,cewek kantor kayaknya engga dech,lu tau kan met..paling enggak gue bisa beli apartemen”.memet tediam sesaat dengar ucapan agus,”eh by the way cewek
apartemen lu apa kabar”.agus sedikit terkejut atas ucapan memet.”udahlah met gue ga mau ngomongin itu lagi sakit ati gue”.”ya ya ya gue ngerti,tapi gue yakin lu bisa gus,apa perlu bantuan”.”udahlah met makasih..keluarga lu
utamain dulu,kalo ada masalah yang serius pasti gue hubungin Lu”.”okey gus,let’s time we get back to work”.ucapan memet menyadarkan agus untuk kembali kerutinitas setelah makan siang,pikiran yang masih menggema tentang
ucapan emak susah untuk di hilangkan..”yeeaach time to work”. ”eh mas aguuuus udah pulang yaaa”sapa seorang wanita disebrang kontrakan.”iya teh,seperti biasa,”.balas agus yang tak banyak bicara dan langsung masuk untuk mandi.Malam rupanya cepat berlalu setelah habis makan malam dan sholat,tak ada rencana lain keculai dirumah,duduk nyantai nonton TV,ngopi,merokok dan menikmati sedikit bayangan tentang cinta&kawin..”huuuff”pelan tapi pasti agus menghela nafas,entah apa yang dipirkan”.Laptop.ya laptop”tiba-tiba agus beranjak mengambil laptop dan modem dari kamar tidur kembali lagi keruang TV menghidupkan internet membiarkan acara Tv tanpa di tonton.”udah lama gue ga ol,apa kabar facebook ya apa kabar twitter ya”.setelah megisi menu login agus sambil bergumam.”waaah tampilan baru facebook gue”.dengan lincahnya jari agus mengutak atik keyboard.”apa kabar sari yaa,dewi,ratih..temen-temen gue udah ga pada OL sibuk anak istri kali”pikir agus dalam hati.Pemberitahuan 20 pemintaan teman”haaa 20… gilaaaaa…3 bulan ga buka FB”agus mengangguk tanda heran dan senang”masih laku juga Lu gus”.agus ngomong sendiri menggeser mouse dan mengkonfirmasi permintaan.”hai tanks ya da konfirm”tiba-tiba menu chat menyala dan mucul”ya sama-sama”jawab agus”.tinggal dimana mas agus”tanya seorang wanita yang nge chat tadi,”gue tinggal di kebon jeruk”.jawab agus.obrolan terasa semakin asik sampai mereka sadar bahwa obrolan harus di akhiri karena waktunya tidur.”kapan-kapan boleh dong gue telfon”tanya agus kepada neneng wanita yang mengajak chat dari tadi.”neneng ga keberatan kok mas silahkan kapan aja mas ada waktu”,jawab neneng disertai smiles emoticon.setelah mengecek semua akun agus menutup koneksi.”kayaknya gue mau mecoba mencari cinta di dunia maya nich”,agus bergumam dengan senyum dan sedikit anggukan.”ya okey”.sembari merampikan tempat,pergi gosok gigi dan tidur.
Read the rest of this entry »

Ih, gw paling sebel deh ama tuh orang. Selalu pamrih. Kalo ada untungnya buat dia, dia lakuin. Cepet-cepet. Kalo nggak, dia sembunyi, lari di sudut terpencil, gak mau kena giliran bantuin orang. MENYEBALKAN.
Dulu waktu minta tolong sama aku, dia baiknya setengah mati. Setelah ditolongin sepenuh hati dan berbalik aku yang perlu pertolongan, dia koq jadinya cuek setengah mati ya? Kesel deh. Baik cuma pas ada maunya, baik cuma pas ada perlunya. Kalo gak, hitung-hitungan setengah mati. Kalo pergi makan bareng, bagi dua sampe yang sekecil-kecilnya. Biarpun lima ratus perak juga dihitung. Lima ratus ‘kan duit juga, bukan? Begitu katanya.
Hal-hal itu mungkin pernah kita ungkapkan sebagai tanda kekesalan kita, karena orang yang kita bantu tak memberikan balasan yang baik, malah lari tunggang langgang ketika dibutuhkan. Untungnya saya pernah bertemu dengan orang-orang yang bertangan terbuka -amat lebar- dalam memberikan pertolongan. Sehingga, saya tidak terlalu kecewa berat (kecewa ringan ya, pernahlah), ketika menemui orang-orang semacam ini. Memang menyebalkan, mengesalkan, bahkan mengecewakan.
Dengan berusaha menjadi orang yang lebih baik tiap hari, saya berusaha menolong orang kapan pun dibutuhkan. Semampu saya tentunya, karena saya juga punya keterbatasan seperti manusia pada umumnya. Saya bukan super hero yang selalu mampu menolong siapa saja, kapan saja, di mana saja, tetapi saya berusaha menjadi orang yang tanpa pamrih dalam menolong.
Namun, ketika saya dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang pernah saya tolong ternyata berbalik menjadi orang yang tak peduli ketika saya butuhkan, ternyata hati saya juga teriak: “ Eh, dulu kan gw tolongin elo, kenapa elo sekarang kayak gini sih ama gw? Pantes gak kayak gitu, tuh?”
Ternyata dari dalam hati saya masih menuntut juga. Menuntut balas jasa terhadap apa yang sudah saya lakukan dengan sungguh dan baik. Sulit rasanya menerima apa yang saya tabur dengan baik, ternyata tuaiannya tidak sebaik perkiraan saya.
Saya hanya bisa menghela nafas. Garuk-garuk kepala. Sambil berpikir:
“ Yaelah, ternyata elo sendiri pamrih juga ya! Katanya menolong dengan tulus dan tanpa pamrih? Koq malah begini? Koq marah dan kecewa pas orang yang bersangkutan gak peduli? Bukannya tanpa pamrih itu harus nrimo, apa pun yang akan dilakukan orang yang sudah kita bantu? Itu baru namanya tanpa pamrih, nggak berharap terlalu banyak. Kalo cuma segitu mah, masih jauhlah dari tanpa pamrih!”
Plakkk…
Seolah diri saya tertampar oleh kata hati saya sendiri. Tanpa pamrih? Mengharapkan orang tanpa pamrih?
Berpikir bahwa saya sudah tanpa pamrih?
Duh, ternyata saya masih harus banyak belajar soal pamrih dan tanpa pamrih…
Boro-boro mau menunjuk orang lain, wong sendirinya saja belum becusss…
Hahaha…
Saya hanya tertawa lebar. Memang, kita semua masih harus belajar.
KITA?
Ya, iya donk… Termasuk saya juga.
Kalo Anda sudah tanpa pamrih, selamat! Anda berhak dapat bintang penghargaan. Jangan seperti saya (yang ternyata) masih berpamrih jugaaaa…
Jadi malu nih. *Blushing*
Hari ini, mau belajar lagi ah, lebih tanpa pamrih.
Mudah-mudahan, ada perbaikan…
Nggak berani ngaku-ngaku sudah bisa tanpa pamrih 100% deh. Malu!:)
HCMC, 18 Maret 2010
-fon-
* buat refleksi pribadi, biar nggak ngaku-ngaku sudah jadi orang tanpa pamrih. Masih jauh dan masih harus banyak belajar:)
Sumber gambar: