Terima kasih bagi para peserta yang udah ikutan berpartisipasi dalam Lomba Nulis Hari Aksara 2009.
Setelah berembug sana-sini. Maka dipilihlah pemenang yang berhak ikut dalam buku yang sedang dalam proses penerbitan.
Memori Bulan September (Martina Felesia)
Selamat buat Tina!
Bagi yang tidak terpilih – karena ini TK Yuk Nulis!, semua bisa terjadi – akan diterbitkan dalam bentuk e-book berbarengan dengan peluncuran buku nanti.
Atas kerja kerasnya, kami ucapkan selamat!
Anita | Angel | Bekti | Danny | Dede | Fachad | Femi | Fonny | Grace | Hanna | Henny | Lini | Pamuji
Yuk Nulis!
“To write well, you have to write what you know”
(Never Been Kissed, 1999)
Didukung sepenuhnya oleh Via Lattea Foundation
(Oleh : Femikhirana)
Penulis, apa yang membuat seseorang dapat menganggap dirinya penulis?
Pertanyaan ini mungkin harus ditelaah oleh mereka yang ‘ngaku’ suka menulis, hobi menulis.
Saya sendiri terus terang tidak tahu apakah ada ukuran empiris tentang seseorang bila ingin disebut penulis. Beberapa orang yang bertanya kepada saya, apakah saya penulis, sering saya jawab dengan,
“Penulis di blog, karena media saya memang sekarang baru blog.”
Read the rest of this entry »
(Martina Felesia)
Laki-laki itu kukenal sejak masih ingusan. Usianya empat atau lima tahun di atasku. Bagiku ia adalah satu-satunya laki-laki yang menarik waktu itu. Bukan karena berwajah tampan karena menurutku ia bertampang biasa-biasa saja. Atau kaya raya banyak uang. Tapi karena dia bertampang menyejukkan. Dan menurutku ia adalah laki-laki paling lucu sedunia, karena di dekatnya aku selalu merasa gembira dan ingin tertawa. Bisa jadi ia adalah duplikat Charlie Caplin yang dikirimkan Tuhan untukku.
Waktu itu menjelang SMA. Laki-laki itu begitu saja menyatakan cintanya. Tanpa kata. Tanpa lagu. Dalam diam ia merengkuh pundakku di bawah payung ketika hujan menderai-derai mengantar kami berangkat ke gereja sore itu. Aku senang bercampur takut. Diakah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku?
Read the rest of this entry »
Terdorong oleh rasa lapar dan kebosanan menunggu, aku pun melangkah memasuki McDonald.Bertahun-tahun aku tinggal di Bintaro, baru kali ini aku memasuki McDonald Sektor 9 ini.Suasananya sedikit berantakan oleh perbaikan disana sini, tapi itu tidak mencegah pengunjung terus berdatangan.Itu sekitar pukul 10.30 pagi. Tapi sudah ramai oleh anak-anak.Setelah aku memesan makanan, aku pun sengaja
Ada beberapa macam tindakan manusia tatkala dia terjepit masalah, antara lain :
Panik
Buru-buru memberontak untuk terlepas. Hasilnya, malah ia semakin sakit akibat gerakannya tersebut. Ia kemungkinan lepas dari persoalan, tetapi mengalami trauma mendalam. Luka batin yang dahsyat. Bila menghadapi masalah yang sama, ia sudah mengalami ketakutan yang amat sangat.
Sabar
Sabar berusaha bergerak pelan-pelan, meringsek [...]

Janji Kita
SMS-mu datang:
“ Jangan lupa, Hari Sabtu, pukul tujuh!
Langsung ketemu di situ.”
Aku tersenyum.
Sedikit malu.
Sedikit rindu.
Sudah tahu.
Itu tempat janji kita bertemu.
Hari Sabtu, pukul 18.30.
Kuterobos macet daerah ‘District 1’,
kucoba arungi kepungan motor,
dalam taksi yang membawaku,
untuk jumpa denganmu.
Kau ada di situ,
duduk di tempat kesukaanmu.
Minum teh hangat kegemaranmu.
Di café tak jauh dari Saigon ‘Notre Dame Basilica Cathedral’ itu,
kau duduk menungguku.
Itu dulu,
dua tahun yang lalu.
Kini hanya kupandangi ‘handphone-ku’
Tanpa SMS-mu.
Tanpa berita darimu.
Bahkan tanpa nomormu,
Karena sudah kuhapus dari memori teleponku
Herannya, tak mampu juga kuhapus dari memori di kepalaku.
Sayang, mengapa sesulit itu?
Kisah cinta beda benua terjadi di Saigon ini,
Setahun,
tak lebih,
sependek itulah kita menjalin cinta.
‘Au revoir, mon amour’
Selamat tinggal cintaku.
Kusimpan perih dan terus melewati
setiap sudut café di ‘district’ 1 ini,
Namun kau tak jua kembali.
Kutahu, kau harus pergi dan tak kembali.
Sementara di Paris sudah menanti,
Tunanganmu dari masa kecilmu.
Sementara aku hanya selinganmu,
pengisi sepi selama kau tugas di sini.
Kuhentikan langkahku.
Masuk kembali ke café itu.
Suasana memang berbeda.
Sendiri. Tanpamu.
Minum kopi kesukaanku.
Memandangi orang yang lalu lalang
Yang melintasi jalan di depan café.
Barisan motor yang berjejer tak rapi.
Trotoar yang sesekali dinaiki mobil.
Ah, sulitnya menepis rasa rindu.
Sayang, masihkah kau ingat aku?
Atau memang tak pernah ada tempat di hatimu untukku?
Kuhirup kopiku.
Habis.
Tak bersisa.
Seperti kisah cinta kita yang juga habis…
Meluap pergi
Entah ke mana.
HCMC, 8 Februari 2010
-fon-
* masih secangkir kopi dan cinta. Tapi kali ini ‘broken hearted’. Turut simpati atas seseorang yang curhat dan sedang patah hati. Juga bagi mereka yang tengah patah hati saat ini, ‘life goes on’. You will survive:).
Sumber gambar:
http://th00.deviantart.net/fs28/300W/f/2008/088/5/9/Goodbye_my_lover_by_aphostol.jpg

Gelisah tak menentu
Tak tau harus berbuat apa
Tak bisa menolak hadirmu
Kau seperti makhluk idaman lain
Selalu dirindu dan dinanti
Tapi tak boleh ketahuan orang
Butuh, tapi jarang yang mau mengakui
Apalagi di tempat ramai
Kau kan jadi pusat perhatian
Suaramu beraneka
Kadang indah mendayu
Kadang seperti marah
Pagi kan jadi abadi
Malam tak jua habis
Detik berlalu seolah berabad
Bila kau tak hadir
Panas dingin sepanjang hari
Mondar mandir seperti setrika
Kalau dikau penasaran
Boleh buktikan sendiri
Ssttt ... Si Kentut mau lewat!
Batam, 8 Februari 2010, 03.20
... gemblung mood ...
Sumber gambar : http://nerdapproved.com/bizarre-gadgets/who-did-it-fart-clock-daytime-tooting-on-the-hour/
(Rebbeca Becky)
Seperti pagi yang lain dan seperti seorang yang lain, ia dan koran di tangan. Asyik membaui kopi yang tak kunjung sejuk untuk siap dicicip. Tangannya yang terbungkus rapi oleh kemeja yang berwarna kelabu saja, membolak balik tiap halaman kertas koran. Sekedar melirik judul pada bagian atas, atau mengomentari berita-berita yang dianggapnya fiktif. Kadang kedua bola matanya melirik ke luar dari balik bingkai kaca mukanya. Menatapi sedetik atau dua, lalu menghela napas puas dan gembira karena menikmati tanaman yang ditanamnya sepanjang akhir pekan kemarin. Kadang sembari bergumam, “indahnya” atau “sebaiknya kuganti dengan…”
Dan aku di situ. Ya, memperhatikannya. Mencatat dengan baik, bagaimana ia berlaku. Bagaimana matanya yang telah serupa redup dengan usianya, menikmati apa yang disebutnya indah. Bagaimana bibirnya yang tebal menempel pada cangkir, dan berusaha keras mecicipi seduhan kopi yang mengepul itu. Atau tangannya, yang bergerak lemah menggapai piring lauk dan disodorkan padaku. Ia, ayahku, ramah menyapa pada pagi-pagiku. Kami tidak selalu duduk bersama untuk makan begini, sekalinya ada akan kugunakan untuk menyimpan gambar terbaik tentang dirinya. Karena kita tidak pernah tahu, kapan kenyataan berakhir. Dan kapan kita harus terbangun sendirian.
Read the rest of this entry »
February 8th,2010
Rebbeca Kezia | tags:
Cerpen |
No Comments
- si olsy -
Perhatikanlah sebuah pintu. Pada umumnya, daun pintu di rumah-rumah bergerak ke dalam sehingga bila Anda dari luar dan untuk membuka pintu, yang Anda lakukan adalah mendorong daun pintu ke dalam dan bila sedang di dalam, menarik daun pintu ke dalam.
Berdasarkan pola gerakan bersumbu daun pintu itu, cobalah sekali-kali, bila Anda sakit gigi, taruh telapak tangan Anda di salah satu sisi tegak gawang pintu yang merupakan sisi tempat gerendel dan pasangan kunci terpasang. Setelah Anda memastikan bahwa telapak tangan telah menempel mantap pada sisi gawang tersebut, pastikan pula bahwa bagian ujung jemari Anda harus tertekuk ke sisi dalam gawang tersebut. Lalu, dengan tangan yang satu raih gagang kunci dan bantingkan daun pintu itu agar tertutup dengan keras dan cepat. Alhasil, Anda akan meraung kesakitan karena telapak tangan yang Anda taruh dan menempel di sisi gawang itu tertimpa oleh gerakan daun pintu yang cepat; yang percepatannya, menurut hukum fisika, diperoleh dari berat daun pintu, dan energi yang dipergunakan untuk mengayunkan daun pintu. Begitu hebatnya rasa sakit yang Anda dapat dari momentum akhir atas gerakan daun pintu itu, seketika sakit gigi terlupakan. Akibat dari tumbukannya, paling tidak membuat kulit di jemari Anda memar atau berdarah; paling parah, tulang jemari Anda remuk. Tapi setidaknya persoalan sakit gigi Anda teralihkan.
Read the rest of this entry »
(Daesy Christina)
Pagi, eh siang tadi saat aku lagi asyik mendengarkan sharing sebuah kelas meditasi, aku tiba-tiba mendengar sebuah deringan telpon pelan.Entah apakah isi kelas tersebut sadar atau tidak, tapi telpon itu terus saja berdering.Pelan, tapi tak terhenti. Mungkin dia terus berdering sekitar belasan kali deh.Dan pikiranku pun mulai melanglang buana.Aku teringat padaNya.Betapa sering dalam hidupku Ia

(Fonny Jodikin)

Comparing
Ibu Suci memiliki seorang suami yang baik dan sepasang anak yang lucu-lucu berumur 4 dan 6 tahun. Di usia perkawinannya yang memasuki tahun ke-8, sebetulnya dia harus akui dia cukup bahagia. Suami bekerja dengan posisi lumayan. Belum manajer sih, tapi cukuplah. Mobil mereka punya, bukan merk yang mewah, tapi muat buat sekeluarga jalan-jalan. Rumah mereka masih dicicil setiap bulannya dan berada di satu kompleks yang cukup baik di kawasan barat Jakarta. Segala sesuatu baik, anak-anak sehat dengan sedikit batuk dan pilek yang datang dan pergi seiring cuaca yang terus berubah. Masalah pasti ada, tetapi mereka setidaknya mampu mengatasinya. Semua seolah baik-baik saja. Sampai satu ketika, tetangga sebelah mereka mulai mendaki kesuksesan. Mereka pindah rumah, dapat mobil bagus, dapat fasilitas wah dan masih terus mengontak Ibu Suci dengan memberi ‘update’ kemajuan mereka. Tanpa sadar, perlahan, Ibu Suci mulai dirasuki pemikiran dan rasa iri hati. Sebetulnya wajar saja, jika iri itu bisa menyelinap diam-diam. Tetapi, ketika rasa itu berdiam terlalu lama dan menyebar menjadi racun yang memenuhi hati seseorang seperti hati Ibu Suci di saat ini, itu yang jadi masalah.
Read the rest of this entry »
(Daesy Christina)
Mata, kacamata terbaik untuk memandang semuanya.Telinga, receiver terbaik untuk menerima semuanya.Hati dan jiwa, filter terbaik untuk merasakan semuanya.Melatih mata, melatih telinga.Melatih hati, melatih jiwa.Dan berikanlah yang terbaik dari seutuhnya kamu lewat sebuah uluran tangan.Apapun yang kau kenakan bisa lapuk.Apapun yang kau injak bisa hilang.Apapun yang kau genggam bisa tersapu

(Daesy Christina)
Apa yang ada padaku bukanlah milikku, tapi hanya titipan.
Tubuhku, pikiranku.
Harta, strata.
Semua bukan milikku.
Semua hanya pinjaman titipan atau apapun itu namanya.
Lepaskan ego, lepaskanlah ke-aku-anku.
Melepaskan apa yang ku kira adalah milikku.
Melepaskan apa yang sebenarnya bukanlah milikku.
Aku bukanlah aku.
Bintaro, 7 Februari 2010
Share
(Angel Li)
Meski dilahirkan di keluarga keturunan Tionghoa dan dari kecil sering mendengar bahasa mandarin digunakan Mama saat berbicara dengan teman-teman dan saudara-saudaranya, tetap saja lidahku tak pernah bisa melafalkan bahasa yang super susah itu dengan baik. Masalahnya, meski Mama dan Papa fasih berbicara, bahkan bisa menulis dengan baik dan benar (maklum, mereka masih sempat merasakan sekolah mandarin sebelum dilarang oleh pemerintah), mereka tidak pernah benar-benar mengajarkan kami bahasa itu. Hanya dipakai kadang-kadang dengan campuran bahasa Indonesia dan logat Makassar yang membuat bunyinya menjadi lebih aneh lagi. Apalagi setelah kemudian beberapa waktu lamanya bahasa mandarin sempat dilarang di Indonesia. Jadilah aku sebagai anak Indonesia keturunan Tionghoa, bermata sipit namun tidak bisa berbicara dalam bahasa nenek moyangku sendiri.
Read the rest of this entry »
February 7th,2010
Angel Li |
No Comments
(Vinna Kurniawati)
… Episode sebelumnya …
Tanpa disengaja Lars berkenalan dengan seorang wanita cantik dan seksi bernama Cherry di sebuah klub yang pada akhirnya malah membuat Lars babak belur dan membuat Jenny harus datang menjemputnya…
Apa yang dilihat Jenny di pagi berikutnya, diantara lembar-lembar koran lokal, benar-benar membuatnya kaget. Dirublik biro jodoh terdapat sebuah kolom yang jelas-jelas menuliskan ciri-cirinya dan nomor telepon yang dikenalnya. Untung saja namanya tidak terpampang di kolom itu, tapi nomor telepon yang ada di sana sudah dapat menjelaskan dengan pasti siapa yang sudah dengan seenaknya menuliskan ciri-cirinya di kolom biro jodoh itu. Dalam kolom itu tertulis seperti ini:
Read the rest of this entry »
(Daesy Christina)
Wajar. Pantas. Benar.Menurut siapa?Menurut kamu? Atau menurut mereka?Menurut mayoritas? Atau menurut minoritas?Mentang-mentang aku naik mobil mewah, aku bisa seenaknya MEMBUAT jalanan menjadi tempat sampah.Mentang-mentang aku bayar ongkos bis kota, aku bisa seenaknya NYAMPAH.Mentang-mentang aku belanja banyak, aku bisa main NYELAK di depan.Mentang-mentang aku orang penting, aku bisa MENGUBAH

Akwila sedang menanti kedatangan Manager itu di ruangan kecil yang penuh dengan buku-buku ini. Selayang pandang dia menjadi takjub,
“Buku-buku penting semua tersusun rapih, dari buku marketing management, sampai buku-buku rohani, bahkan Alkitab,” katanya membatin.
Ia menjadi malu dengan dirinya sendiri, rasanya ia kalah jauh dalam segalanya dengan Si Manager ini.
“Jauh sekali cara dia memperlakukan ruangannya [...]